Monas

Emas yang membalut Monumen Nasional hasil tambang rakyat Indonesia

Jakarta, Metropol – Monas atau Monumen Nasional adalah bukti kejayaan tambang rakyat Indonesia. Seperti yang diceritakan oleh Ketua Umum APRI, Ir. Gatot Sugiharto kepada Metropol saat kunjungan di PT Aneka Tambang (Antam) di Jl. Letjen. TB. Simatupang, Jakarta, Selasa (18/10).

Gatot menjelaskan, 50 Kg emas yang membalut 14,5 ton perunggu di bagian atas Monumen Nasional berasal dari sumbangan masyarakat bernama Teuku Markam yang memiliki tambang emas rakyat di Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu.

Lanjutnya mengatakan, seperti diketahui. Bahwa sejarah Teuku Markam yang berasal dari Aceh ini sangat banyak membantu Pemerintah Republik Indonesia.

Menurut Gatot, Tugu Monas adalah monumen peringatan setinggi 132 meter (433 kaki) yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia, ketika merebut kemerdekaan dari pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Ditambahkannya, pembangunan monumen dimulai pada tanggal 17 Agustus 1961 di bawah perintah Presiden Sukarno dan dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975. Tugu ini dimahkotai lidah api dilapisi lembaran Emas yang melambangkan semangat perjuangan yang menyala-nyala.

“Jadi kalau pemerintah sekarang konsisten dengan perlakuan beranggapan tambang rakyat adalah illegal. Maka seharusnya membongkar Monas terlebih dahulu.  Karena emas yang ada di bagian atas Monas berasal dari tambang rakyat,” ungkapnya.

Tidak hanya emas, katanya menceritakan. Pada tahun 2015, ketika terjadi konferensi Asia-Afrika di Bandung. Salah satu souvenir yang paling dibanggakan adalah batu akik seperti batu Bacan, Kalimaya, Calsedoni dan Pancawarna.

Ditambahkannya, semua tahu bahwa batu akik adalah produk tambang rakyat yang selalu dikejar-kejar oleh oknum petugas, diperas dan tidak sedikit yang dibumihanguskan.

“Sungguh ironis. Pemerintah disatu sisi memperlakukan tambang rakyat dengan buruk sekali. Bahkan menganggap seperti penjahat. Tetapi disisi lain dengan tanpa malu-malu, bahkan dengan bangga menjadikan produk tambang rakyat yang disebut illegal menjadi souvenir resmi untuk para tamu undangan yang terhormat,” katanya.

Gatot juga kembali menegaskan, kehadiran Presiden RI, Joko Widodo saat kongres tambang rakyat Indonesia 1 – 4 November 2016 nanti merupakan penentuan kehormatan bangsa kepada dunia terhadap perjuangan rakyatnya.

“Kami serahkan kehormatan bangsa ini kepada bapak Presiden,” kata Gatot.

(Kamal/YP)

KOMENTAR
Share berita ini :