Kapolres Lumajang Himbau Mahasiswa Rawat Kebhinekaan

Kapolres Lumajang AKBP Muhammad Arsal Sahban memberikan kuliah umum tentang wawasan kebangsaan di Universitas Terbuka, di Gedung KWT Wonorejo Kecamatan Kedungjajang, Rabu (11/9).

Lumajang, NewsMetropol – Kapolres Lumajang AKBP Muhammad Arsal Sahban memberikan kuliah umum tentang wawasan kebangsaan kepada ratusan mahasiswa Universitas Terbuka di Gedung KWT Wonorejo Kecamatan Kedungjajang, Rabu (11/9).

Dalam materinya, Kapolres Lumajang menceritakan tentang hebatnya Indonesia memiliki semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”.

Kata dia, semboyan itu menyatukan bangsa Indonesia walaupun memiliki 1340 suku, 742 bahasa, 4 ras dan juga agama yang berbeda-beda.

Kapolres juga menyinggung Uni Soviet, sebuah negara dengan kekuatan ekonomi, politik dan militer yang luar biasa.

Bahkan kata dia, Uni Soviet dulunya pernah menjadi salah satu pemegang hegemoni dunia bersama Amerika Serikat meskipun negara super power tersebut saat ini hanyalah tinggal kenangan, karena negara tersebut pecah menjadi 15 negara-negara kecil.

Lebih jauh Kapolres Lumajang menyebutkan bahwa ada 2 faktor penyebab pecahnya sebuah negara yaitu faktor Internal dan faktor Eksternal.

“Faktor internal tentang membangun kelas menengah. Bila negara didominasi kelas menengah, masyarakatnya akan lebih dewasa dalam memahami demokrasi. sedangkan negara yg didominasi kelas bawah akan sangat rentan untuk munculnya konflik. pecahnya sebuah negara biasanya diawali oleh konflik-konflik kecil yang kemudian berkembang menjadi besar,” jelas Magister jebolan UGM Yogyakarta itu.

Sedangkan Faktor Eksternal terang dia berkaitan dengan hubungan antar negara.

“Dunia saat ini dikuasai oleh kekuasaan barat yg disebut Monopolar. Sehingga bisa memaksakan paham-pahamnya di gunakan oleh negara lain dengan standar negara pemegang hegemoni dunia tersebut. Seperti standar demokrasi, maupun infiltrasi melalui budaya. Saat Kapolres menanyakan tentang Gundala Putera Petir, tidak ada satupun siswa yang tahu. tapi saat menanyakan Batman, semua siswa angkat tangan tanda mengetahui. ini artinya, infiltrasi budaya barat sangat deras masuk ke Indonesia, padahal Indonesia juga punya super hero dengan nilai-nilai yang lebih meng-Indonesia,” terangnya.

Lebih jauh Arsal menerangkan bahwa potensi-potensi konflik yang dapat berakibat kepada disintegrasi bangsa terjadi hanya karena perbedaan pandangan, yang kemudian menyebabkan polarisasi dalam masyarakat.

“Masa-masa Pemilihan Pemilu serentak tahun 2019 sebelumnya bisa menjadi referensi, bagaimana potensi konflik yang sangat tinggi. Hoax telah menjadi santapan kita sehari-hari, bahkan terjadi konflik terbuka di depan Bawaslu yang menyebabkan beberapa anak bangsa kita meninggal, serta adanya penyerangan kepada kantor-kantor polisi dan asrama Polisi,” imbuh perwira asal Makassar ini.

Dia menambahkan bahwa saat ini Indonesia mendapatkan bonus demografi, dimana banyaknya kelas menegah yang tumbuh sangat luar biasa.

“Kelebihan ini harus dimanfaatkan dengan baik untuk menumbuhkan middle class. Inilah jalan terbaik untuk menjaga keutuhan NKRI,” pungkasnya.

(Red)

KOMENTAR
Share berita ini :