WARTAWAN DI SEKAP

M. Nasir wartawan Bidik Nasional korban kekerasan diantar oleh sejumlah wartawan yang tergabung dalam Forum Wartawan Lintas Media Jember, melapor ke Satreskrim Polres Jember.

Jember, Metropol – Kekerasan terhadap Jurnalis kembali terjadi di Jember. Kali ini menimpa  M. Nasir wartawan Bidik Nasional yang menjadi korban kekerasan dan penyekapan serta upaya Intimidasi. Ironisnya perilaku tidak manusiawi itu justru dilakukan oleh Oknum Kepala Desa dan Kepala Sekolah di Kecamatan Mumbulsari, pada Minggu (26/3) dinihari.

Atas kejadian yang dialaminya, M. Nasir dengan diantar oleh sejumlah wartawan yang tergabung dalam Forum Wartawan Lintas Media (FWLM) Jember, melaporkan peristiwa ini ke Satreskrim Polres Jember, Senin (27/3).

“Saya saat itu dimasukkan ke dalam mobil secara paksa oleh sekelompok orang ketika hendak mengambil sepeda (Motor) di parkiran Pujasera yang ada di Jl. Sudirman,” ujar M. Nasir.

Baca Juga:  Penembakan di Papua : Dua Insiden Berbeda, Tidak Saling Berkaitan

Monas panggilan akrab M. Nasir menceritakan, saat itu sekitar pukul 23.00 WIB,  ia dijemput oleh sekelompok orang dengan menggunakan mobil Toyota Avanza warna hitam. Kata dia, setibanya di salah satu SPBU yang ada di Jalan Basuki Rahmat sebelah Selatan Pasar Sabtuan Jember, dirinya diturunkan dan dimasukkan ke dalam Musholla.

Lanjut Monas, di dalam Musholla tersebut dirinya dipukuli oleh sejumlah orang yang sebelumnya telah menunggu di parkiran SPBU. “Ternyata di parkiran SPBU ada beberapa mobil yang kemungkinan besar adalah anggota dari orang yang meculik saya,” ujarnya lagi.

Setelah mengalami penyiksaan di Musholla, dirinya kembali dinaikkan ke mobil. Kata dia, di dalam mobil tersebut, ada tiga Kepala Sekolah dan Kepala Desa “serta beberapa orang, sekitar 7 sampai 8 orang, dan saya dibawa ke Mumbulsari,” jelas Monas.

Baca Juga:  Polda Banten Ungkap Kasus Predator Anak Berkedok Ritual Silat dan Praktik Aborsi

Dia juga mengatakan, selama perjalanan dari SPBU ke salah satu Balai Desa yang ada di Mumbulsari, dirinya masih terus mendapat ancaman dan penganiayaan, “Saat dimobil saya sempat mendengar ancaman kalau saya mau dibunuh,” ujar Monas.

Dia menambahkan, sesampainya di Balai Desa, dirinya kembali mendapatkan perlakuan kasar dari pengikut Kepala Desa. “Saat itu saya diintimidasi serta dianiaya. Banyak warga yang menyaksikan kejadian tersebut,” imbuhnya.

Monas juga mengaku saat dirinya  dianiaya, ada salah seorang temannya yang juga anggota LSM datang. “Tapi dia juga dipukuli oleh orang orang di balai desa, saya baru bisa keluar dari balai desa jam 4 pagi, itupun setelah saya memberikan ‘sanjungan’ kepada kades,” terang Monas.

(Andik/Umar/MD)

KOMENTAR
Share berita ini :