Reporter : Irsal Pili | Editor : Febry Ferdyan
BLITAR, NEWSMETROPOL.id – Mahasiswa KKNT MBKM Kelompok 25 dari UPN Veteran Jatim, mendapatkan ajakan dari Kelurahan Kepanjen Kidul untuk mengikuti ziarah di Makam Djojodigdo, Jumat (31/03/2023).
Acara ziarah rutin diadakan setiap tahunnya, tepatnya pada saat hari jadi Kota Blitar.
Makam Djojodigdo sendiri berada di halaman belakang Pesanggrahan Djojodigdan. Makam tersebut merupakan makam khusus keluarga dari Djojodigdo, yang dahulunya adalah rumah tinggal R.NG. Bawadiman Djojodigdo.
Pada ziarah di Makam Djojodigdo dalam rangka memperingati hari jadi Kota Blitar ke-117 dihadiri oleh Sekretaris Daerah Kota Blitar Priyo Suhartono, S.Sos., dan Sekretaris Kecamatan Kepanjen Kidul Choirul Effendi, S.Sos., selain itu ziarah juga didatangi beberapa perangkat dari Kelurahan Kepanjen Kidul. Kedatangannya dalam kegiatan ziarah bertujuan untuk mengenang jasa jasa tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia yang merupakan putra asli Blitar.
Dalam suasana yang khidmat, peziarah membawa bunga sebagai bentuk penghormatan kepada sosok yang dianggap sebagai pahlawan nasional tersebut. Tidak lupa peziarah juga melantunkan doa yang dipimpin oleh salah satu perangkat kelurahan. Doa dan tabur bunga tidak hanya dilakukan pada makam R.NG. Bawadiman Djojodigdo saja, namun juga kepada beberapa makam lain yang berada pada pemakaman tersebut.
Siapa R.NG. Bawadiman Djojodigdo?
Diketahui R.N.G. Bawadiman Djojodigdo adalah penerus penguasa Blitar kedua setelah KPH. Warsokoemo Djjodigdo. Beliau terlibat aktif dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia sejak awal tahun 1940-an.
Setelah Kemerdekaan Indonesia, Djojodigdo menjabat sebagai Menteri Perhubungan dalam Kabinet Presiden Soekarno. Beliau juga sempat menjabat sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat pada tahun 1950 dan 1953. Kehadiran R.NG. Bawadiman Djojodigdo yang memiliki kepandaian dan ilmu tinggi membawa Bupati Berbek R.Ng. Pringgo Digdo menjadi Patih Blitar pada 8 September 1877. Djojodigdo meninggal l dunia di usia 78 tahun pada tanggal 06 Desember 1992.
Dalam menjalankan tugasnya, Djojodigdo dikenal selalu dekat dengan masyarakat dan tokoh dengan pengetahuan Kedigjayaan yang luar biasa. Konon ketika Gunung Kelud meletus pada tahun 1901 saat lahar mencapai pusat Kota Blitar, cambuk saktinya mampu melilit lahar tersebut. Berkat jasanya tersebut, Ratu Wilhelmina II dari Belanda mempersembahkan penghargaan berupa medali emas dan namanya diabadikan sebagai salah satu jalan utama di Kota Blitar, yaitu Jalan R.NG. Bawadiman Djojodigdo.
Kediaman Djojodigdo dibangun bersamaan dengan dibangunnya Kantor Pemerintahan pada tahun 1875. Pada mulanya tanah tersebut sangat luas berupa tanah Perdican yang diberikan sebagai jalan setapak menuju Djojodigdo. Saat ini, luas tempat tinggal Djojodigdo hanya 2,7 hektar. Rumah ini juga dibangun secara besar besaran oleh Penguasa Rembang, R. Mas Adipati Arjo Djajaningrat, putra Patih Djojodig.
Karena lahan yang luas tentunya dimanfaatkan untuk ditumbuhi berbagai jenis tanaman. Menurut penuturan salah satu keturunan Djojodigdo, yaitu Nanik mengatakan, dahulu kediaman ini banyak tumbuhan-tumbuhan langka, hanya saja karena tidak ada yang merawat jadi pada mati semua.
Ibu Nanik juga menjelaskan apabila dengan adanya Pesanggrahan Djojodigdan menjadi bukti betapa besar pengaruh dan kekuasaan R.N.G. Bawadiman Djojodigdo di Kota Blitar.
“Dengan tetap melestarikan tradisi ziarah ini, diharapkan para generasi muda tidak akan pernah lupa akan jasa para tokoh di masa lalu yang telah mengorbankan segalanya demi kemerdekaan Negara Indonesia,” pungkasnya.



