Peta Desa. Dok MP.
Luwu Timur, Metropol – Setiap tahunnya lahan pertanian Desa Maleku selalu terendam banjir. Lahan persawahan dan perkebunan amblas terendam air, bahkan tanggul habis terbawa air sungai,” ujar Kepala Desa Maleku,.Kaddin Tamu. U. kepada Metropol saat ditemui di ruang kerjanya, Sabtu (4/3) kemarin.
Lanjut Kaddin, luapan air sungai semakin besar apabila aliran air Sungai Kalaena bertemu dan bersatu dengan aliran Air Sungai Magege sehingga bisa menenggelamkan desanya. Selain itu, menurutnya, aktivitas penebangan hutan di hulu sungai tersebut memperperah kondisi DAS karena distribusi aliran air sungai ke hilir terganggu.
“Pada musim hujan air sungai akan terlalu banyak bahkan sering menimbulkan banjir tetapi pada musim kemarau jumlah air sungai akan sangat sedikit atau bahkan kering,” katanya lagi.
Disamping itu, kata dia, penggundulan hutan akan meningkatkan proses sedimentasi di kawasan DAS dan juga berpotensi menimbulkan berbagai macam kerusakan (degradasi) serta kehilangan keanekaragaman hayati (biodiversity), kehilangan tanah (erosi) ataupun kehilangan unsur hara dari daerah perakaran (kemerosotan kesuburan tanah atau pemiskinan tanah).
“Juga akumulasi garam (salinisasi), penggenangan (water logging), dan akumulasi limbah industri atau limbah kota (pencemaran),” jelas Kaddin.
Dengan ancaman kerusakan lingkungan yang sangat serius itu, Kaddin berharap Pemerintah Kabupaten Luwu Timur melalui Dinas terkait dapat memperhatikan kondisi dan permasalahan yang tengah dialami warganya.
“Kasihan warga kami yang setiap tahunnya harus mengalami banjir dan kehilangan lahannya akibat terbawa air sungai,.apalagi ini sudah masuk musim penghujan. Yang sangat urgent yang harus dilakukan adalah normalisasi tanggul,“ ujar pria yang pernah menjabat Kaur Pemerintahan di desanya itu.
(Ade)
