Perayaan Ulang Tahun ke-74 Bapak Muhammad Jusuf Kalla. Jakarta, Minggu, 14 5

Perayaan Hari Ulang Tahun ke-74 Muhammad Jusuf Kalla. Jakarta, Minggu, (15/5).

Jakarta, Metropol – Selamat Ulang Tahun ke-74 kepada Bapak Muhammad Jusuf Kalla, yang lebih akrab disapa JK.  JK lahir di Bone 15 Mei 1942 lalu. JK adalah pemimpin nasional yang unik, menjabat dan menduduki kursi Wakil Presiden RI dua kali melalui Pemilu. Mungkin JK layak didaftar di Panitia Guinnes Record, sebagai satu-satunya Wakil Presiden ala JK. Tahun 2004-2009, mendamping Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan kini mendampingi Presiden Joko Widodo priode 2014-2019.

Sepak terjang JK sebagai tokoh saudagar kaya raya. Pemikiran-pemikiran dan lobi politiknya dinilai cermat, praktis dan strategis ala saudagar, seribu akal. Perannya sebagai Wapres era Jokowi berbeda denga era SBY yang dulu hampir tiap hari di media massa. Bahkan diklaim lebih populer dibanding Presiden SBY sehingga muncul istilah matahari kembar. JK memang tergolong akrab dengan kalangan wartawan. Tidak pelit berita dan komentar-komentar singkat terhadap setiap isu dan masalah bangsanya.

“Pak JK pernah berguyon, awak media itu perlu disuplai berita demi keberlangsungan medianya,” kata mantan staf ahli Wapres 2004-2009, M. Saleh Mude, Minggu, (15/5) kemarin.

Baca Juga:  Geopolitik Piring Rakyat: Membedah "Operasi Senyap" Prabowo di Rantai Pasok Gizi

Hari ini JK genap di usia yang ke-74 tahun. Dalam setiap kesempatan selalu tampil dengan gaya yang tidak berubah, tetap lincah, aktif menerima tamu-tamu negara dan kolega-koleganya dari berbagai profesi dan menghadiri berbagai ragam acara dan kegiatan dalam dan luar negeri, terutama berkaitan misi perdamaian di Timur Tengah, sebagai juru bicara Organisasi Kerjasama Islam (OKI).

Sebagai anak bangsa, yang merasa beruntung karena ikut gerbong pendukung dan membanggakan sosok JK, perkenankan saya di tulisan ini menitipkan tujuh harapan kepada JK bertepatan di ulang tahun ke-74-nya.

Pertama, meminta kepada Presiden Joko Widodo agar segera mencopot Menteri yang bergaya Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) seperti Rizal Ramli. Sosok RR adalah pembuat gaduh di lingkungan Pemerintahan Eksekutif yang sibuk mengeritik secara frontal daripada bekerja.

Kedua, meminta Presiden Joko Widodo agar hati-hati dan menjauhi para pembisik dan opurtunis di lingkungan Istana yang bisa merusak nama baik presiden dan lembaga kepresidenan.

Ketiga, mengajak Joko Widodo dan aparat negara agar mengantisipasi gejala bangkitnya kembali gerakan radikal yang menamakan diri anak-anak dan pewaris yang ingin menghidupkan kembali Partai Komunis Indonesia (PKI).

Baca Juga:  Geopolitik Piring Rakyat: Membedah "Operasi Senyap" Prabowo di Rantai Pasok Gizi

Keempat, menegur pejabat daerah seperti Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang bergaya emosional dan semena-mena menggusur dan mengusir penduduk pinggiran Jakarta.

Kelima, menegur pejabat seperti Saut Situmorang, Wakil Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang telah menghina dan menuding dan menggeneralisasi aktivis-aktivis Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) sebagai pelaku-pelaku korupsi ketika berkuasa.

Keenam, memberi peluang dan kesempatan kepada putra-putri dan pejabat karier asal Sulawesi Selatan untuk ikut serta dalam fit and proper test untuk menduduki posisi dan jabatan yang strategis dan prestisius terutama di Kementerian/Lembaga Negara dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), sebagai bentuk pemberian tongkat estapet peran-peran penting anak Sulawesi Selatan di pentas dan panggung nasional.

Kemudian ketujuh, JK diberi kesempatan emas dan kesehatan yang prima agar dapat mewujudkan tahapan-tahapan perdamaian di Timur Tengah lewat Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang kini dipimpinnya.

Saleh Mude juga mengatakan, “Pak JK sudah punya tim cerdas untuk menganalisa faktor-faktor berlarut-larutnya perang saudara dan tragedi kemanusiaan di Timur Tengah,” ujarnya.

(IR)

KOMENTAR
Share berita ini :