Asnawi Abdul Rahman Ketua Umum PB. PSTI periode 2017-2021. Foto: Ade.
Jakarta, Metropol – Asnawi Abdul Rahman akhirnya terpilih secara aklamasi menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PB. PSTI) periode 2017-2021 dalam Munas PB.PSTI yang berlangsung pada Minggu, (26/2) kemarin, di Hotel D’arcici, Plumpang, Jakarta Utara.
Asnawi yang sebelumnya menjabat Sekjen PB.PSTI itu terplih secara aklamasi karena hanya ada satu calon dalam Munas yang dibuka Wakil Ketua Umum I KONI Pusat Suwarno. Hingga batas akhir pendaftaran bakal calon yang dilakukan oleh tim Penjaringan dan Penyaringan, Sabtu, (25/2) pukul 18.00 WIB hanya memunculkan satu nama yakni Asnawi.
Asnawi sendiri bukan orang baru di sepak takraw Indonesia. Selain menjabat Sekjen PB.PSTI pada periode lalu, pria asal Bugis ini menjadi pejabat pelaksana tugas (Plt) Ketua Umum menyusul kasus hukum menimpa sang Ketua Umum Anjas Rivai.
Para peserta Munas PSTI yang datang dari 30 Provinsi itu memang secara prinsip tak mau pesta demokrasi di tubuh organisasi sepak takraw tertinggi di Indonesia tersebut menemui jalan buntu.
”Kami jauh-jauh datang dari daerah tentu sangat merugi jika kembali dari Munas ini tanpa menghasilkan apa-apa, apalagi sosok Ketua Umum. Karena hingga detik terakhir hanya ada satu calon yakni Pak Asnawi maka kami pun harus memilih beliau. Intinya kami ingin menyelamatkan PSTI jangan sampai terjadi kekosongan pimpinan,”kata Sekretaris Umum Pengprov PSTI Sultra, Sardjono.
Hal senada juga diungkapkan Sekretaris Umum Pengprov PSTI Gorontalo, Mud Mada. Menurut Muda Mada, pilihan kepada Asnawi bukan karena keterpaksaan. Oleh karenanya, Pengprov PSTI Gorontalo ingin melihat sepak takraw Indonesia lebih maju.
Namun baik Sardjono maupun Mud Mada, sama-sama meingingatkan Ketua Umum terpilih bercermin pada kepengurusan sebelumnya. Artinya Ketua Umum PSTI terpilih Asnawi sudah bisa memilah-milah program baik pada periode lalu untuk kemudian dilanjutkan dan bahkan ditingkatkan. Sebaliknya yang kurang baik diperbaiki kalau masih bisa diperbaiki atau bahkan ditinggalkan jika memang tak ada manfaatnya.
Sementara itu Suwarno yang membuka secara resmi Munas PSTI ini mengatakan, tantangan yang dihadapi PSTI empat tahun ke depan sangat berat terutama masalah pendanaan. Dengan masih minimnya dukungan dana dari pemerintah, menuntut kerja keras dari seorang Ketua Umum apalagi sepak takraw adalah olahraga yang masih sulit dijual ke sponsor.
”Pesan saya siapa pun yang menjadi Ketua Umum PSTI, tak bisa menghindari kesulitan ini. Namun saya yakin PSTI akan bisa keluar dari kesulitan tersebut bila semua elemen sepak takraw di negeri ini bersatu padu dan mau diajak bekerjasama,”papar mantan Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Dan Paspampres) itu.
Sementara itu, Panitia pengarah acara Jumadi Iskak mengatakan, jalannya Munas PSTI ini sesungguhnya sempat memanas (alot) meski akhirnya dapat dikendalikan. “Dalam Munas ini, sidang komisi ditiadakan karena peserta Munas sepakat masalah rencana program kerja PB.PSTI empat tahun ke depan akan dibahas secara khusus di Rapat Kerja Nasional (Rakernas),” katanya.
Lanjut Jumadi, pada Rakernas nanti akan kita membahas berbagai penyempurnaan AD/ART, termasuk persyaratan bakal calon Ketua Umum. ”Alhamdulillah para peserta Munas lebih mengutamakan kepentingan yang lebih besar ketimbang kepentingan pribadi atau kelompok. Buktinya kekhawatiran Munas PSTI akan deadlock ternyata tak terjadi. Ini wujud nyata bahwa kekeluargaan di sepak takraw sangat tinggi, tingkat kedewasaan bertindak dan berpikir pun sangat tinggi,” tambah Jumadi.
(MP/*)
