IMG-20220815-WA0009

Penulis : Kontributor Humas Polres Polman | Editor : Usman Padong

POLEWALI MANDAR, newsmetropol.id – Wakapolda Sulbar Brigjen Pol Umar Faroq dan Kapolres Polman AKBP Agung Budi Leksono mengunjungi sekaligus berziarah ke makam “To Salama”.

Kedatangan orang nomor dua di jajaran Polda Sulbar dan Bersama Kapolres Polman Tersebut turut disambut sejumlah tokoh Masyarakat di Pulau Salama, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polman, Minggu 14 Agustus 2022.

Untuk diketahui, Makam Syeh Abdul Rahim Kamaluddin atau Syeh Bil Ma’ruf, merupakan orang pertama yang menyebarkan agama islam di daerah Binuang.

Makam “To Salama” ini terletak diatas puncak bukit dengan ketinggian kurang lebih 45 meter dari permukaan laut. Luas area makam 10 X 25 Meter Persegi dan bangunan situsnya seluas 5 Meter persegi. Di area makam To Salama terdapat juga makam para pengikut setia Syeh Abdul Rahim Kamaluddin.

Makam para wali ini selalu ramai dikunjungi, baik masyarakat setempat, maupun masyarakat di luar dari Kecamatan Binuang. Bahkan, orang luar negeri seperti, Malaysia dan beberapa turis manca negara lainnya, pernah berkunjung ke makam tersebut.

Baca Juga:  Sharing Season Perkuat Pemahaman Kenali Tanda Penyakit Diabetes Mellitus dan Cara Cegah Sejak Dini pada PNPP Polres Kotim

BACA JUGA : Kapolres Polman Hadiri Pengarahan Komandan Brigade Infanteri 11 Badik Sakti

BACA JUGA : Peringati HUT Polwan ke-74, Polwan Polres Polman Goes To School

Tosalama berasal dari bahasa pattae (Polewali Mandar) yang terdiri dari 2 kata, yaitu kata To dan kata salama. To berarti orang-orang, sedangkan salama berarti selamat, jadi To Salama ialah orang-orang yang selamat.

To Salama adalah sebutan bagi masyarakat sekitar sebagai orang yang selamat karena memeluk agama islam. Sebelum islam datang di Polewali Mandar khususnya bagian Desa Batetangnga, Kecamatan Binuang masyarakat ini sebelumnya tidak mengenal islam.

To Salama juga sangat erat kaitannya dengan Pulau Tangnga yang sekarang telah berubah nama menjadi Pulau To Salama. Nama pulau ini berubah nama dikarenakan seorang penyebar islam di pesisir pantai Kecamatan Bunuang ini dimakamkan di pulau ini. Makam ini pun di anggap sakral oleh masyarakat setempat dan dipercaya dapat mengabulkan do’a bagi para peziarahnya dan sebagai tempat bernazar. Ratusan bahkan ribuan peziarah datang dari berbagai darah di Indonesia bahkan dari negara luar telah datang ke makam ini untuk berziarah sekaligus melakukan ritual Ma’baca, biasanya para peziarah membawa makanan seperti sokko, telur, ayam, pisang dan lain-lain.

Baca Juga:  Polsek Sragi Dampingi Rembug Warga dan PT Arunika Jaya Textile, Sepakati Pembangunan Saluran Irigasi

Para peziarah juga membawa hewan sebagai persembahan kepada makam seperti hewan ayam, kambing, sapi, dan kerbau, dan kemudian hewan tersebut di sembelih di sekitar makam dan kemudian di kelolah untuk bahan melakukan ritual ma’baca tersebut. Ada juga masyarakat yang langsung melepaskan hewan tersebut di sekitar makam tersebut.

Untuk berkunjung kearea makam tersebut, terdapat beberapa jalur yang berbeda. Biasanya, jalur yang dilaui yaitu buttu Te’neng, Tonyaman, Bajoe, Silopo. Cukup dengan menyewa perahu tradisional milik warga setempat, kita pun sampai dengan waktu tempu sekitar 10 menit.

KOMENTAR
Share berita ini :