IMG-20200829-WA0105

Ankara, NewsMetropol – Kegigihan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mempertahankan haknya di perairan Mediterania Timur membuat negaranya terancam tidak memiliki sekutu di Uni Eropa.

Pasalnya pernyataan Kanselir Jerman Angela Merkel merupakan indikasi kuat jika Uni Eropa akan memberikan dukungan terhadap Yunani untuk melawan Turki dalam sengeketa landasan kontinen di Laut Mediterania Timur.

“Semua negara Uni Eropa berkewajiban mendukung Yunani di Mediterania Timur,” ujar Merkel, Jum’at (28/8).

Pernyataan Kanselir Jerman tersebut menuai sorotan publik mengingat posisi Jerman saat ini merupakan Ketua Presidium Dewan Eropa yang sebelumnya netral menyikapi sengketa tersebut mengingat Turki dan Yunani juga merupakan anggota UE.

Menyikapi perkembangan tersebut, pengamat internasional Hasmi Bakhtiar mengatakan, dukungan Merkel yang seharusnya hadir sebagai penengah terhadap Yunani telah melanggar aturan main NATO.

“Sulit disangkal bahwa dukungan beberapa negara Eropa khususnya Jerman terhadap Yunani yang salah secara hukum dan lemah secara politik tidak bermotif agama,” ujar Hasmi Melalui akun Twitternya, Sabtu (29/8).

Hasmi bahkan menuding seruan Kanselir Jerman tersebut lebih bermotif kesamaan agama sehingga mengabaikan prinsip-prinsip keadilan.

“Jerman sudah menyatakan sikap mendukung Yunani murni karena motif agama bukan ekonomi atau politik. Negara-negara Eropa mendukung Yunani karena alasan agama, seharusnya muslim juga mendukung Turkey dengan alasan yang sama,” ujarnya lagi.

Lebih jauh Hasmi berpendapat bahwa meskipun Turki terancam dikeroyok di Mediterania Timur namun hal itu membuktikan bahwa Turki merupakan bangsa yang telah siap menghadapi segala kemungkinan yang ada.

“Turki benar-benar ingin naik kelas. Saya lihat beberapa kartu yang selama ini selalu disimpan Erdogan sekarang mulai dikeluarin. Artinya kondisi sedang darurat,” jelasnya.

(Red)

KOMENTAR
Share berita ini :