Jakarta, NewsMetropol – Menteri ESDM memutuskan menambah target produksi batu bara sebesar 75 juta ton menjadi 625 juta ton pada 2021 ini dari target semula 550 juta ton.
Hal ini tertuang dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 66. K/HK. 02/MEM.B/2021, tentang Perubahan Atas Keputusan Menteri ESDM No. 255.K/30/MEM/2020 tentang Pemenuhan Kebutuhan Batu Bara Dalam Negeri Tahun 2021.
Terkait hal tersebut, Ketua Asosiasi Investor Indonesia, Andi M. Irhong N, ikut angkat bicara. Menurutnya, Pemerintah harus tetap melakukan evaluasi terhadap kenaikan harga Batubara, pasalnya pembeli asal China dan negara konsumen lainnya di dunia ini tidak serta merta setuju dengan harga yang tinggi.
“Jangan sampai kenaikan harga ini malah menyulitkan penambang Batubara lokal Indonesia” sebut Andi Irhong, di Jakarta, Rabu (14/4).
Dirinya mengatakan, jangan hanya berdasarkan pantauan Tim Riset CNBC Indonesia, harga batu bara termal ICE Newcastle berjangka bersiap kembali tembus level psikologis US$ 90/ton.
“Harga batu bara melesat 3,25% dari US$ 86,2/ton menjadi US$ 89/ton, Saya rasa tidak ada pembeli yang mau rugi, yang lucu nantinya kalau penambang lokal over stock malah pembeli pada kabur akhirnya penambang juga yang rugi,” terangnya.
Kata dia, sepertinya bukan karena adanya persaingan dagang antara China dan Australia tapi melainkan adanya kecenderungan pemanfaatan untuk mendapatkan keuntungan golongan pada situasi kelesuan perekonomian di negeri ini.
Andi M. Irhong N, yang juga pendiri Aliansi Pemuda Internasional bersama Reski Sudirman selaku Presiden Aliansi Pemuda Internasional, Muhammad Yamin dan Ari Sayly Muhtar, S.H sebagai Pakar Hukum Aliansi Pemuda Internasional sekaligus aktivis Mahasiswa, mengingatkan agar semua pihak yang terkait sebaiknya berpikir jernih untuk tetap membangun kelangsungan perekonomian bangsa melalui kerjasama yang baik dengan pihak luar negeri apalagi di tengah pandemi seperti ini.
“Sebaiknya di evaluasi dulu, jangan sampai merugikan diri sendiri,” kata Andi M. Irhong.
CEO/Chairman Sawerigading International Group asal Bugis ini juga menghimbau kepada penambang lokal untuk tetap berhati- hati akan adanya isu kenaikan harga yang meroket, jangan sampai harga kembali anjlok dan merugikan penambang lokal.
(Red)
