Ilustrasi seruan untuk menghentikan kampanye hitam (JIBI/dok).
Surabaya, NewsMetropol – Pemilihan Kepala Daerah di sejumlah daerah di Jawa Timur, harus disikapi sebagai suatu festival demokrasi.
“Sebagai layaknya festival, tentu masing-masing peserta harus menampilkan keindahan, perbedaan sebagai suatu keberagaman, sehingga rakyat sebagai jurinya, akan bisa menentukan siapa nanti yang layak menjadi pemenangnya,” ujar pengamat kebijakan publik dari Sailendra Foundation Rizki Ananda pada diskusi publik yang bertema ‘Mencari Figur Pemimpin Jawa Timur Masa Depan’ di Surabaya, Jum’at (16/2).
Menurut Rizki, melalui moment tahun politik 2018 dan akan disambung dengan Pileg serta Pilpres 2019, sudah saatnya menjadikan sebagai tonggak awal untuk memperkokoh komitmen maupun visi kebangsaan.
“Bila dalam proses memilih pemimpin diawali dengan proses yang baik, dengan mengedepankan politik yang berbudaya, akan melahirkan pemimpin yang memiliki komitmen kuat terhadap bangsa dan negaranya,” ujarnya lagi.
Menurutnya, momentum Pilkada ini, harusnya bisa dikemas sebagai sebuah festival demokrasi.
Artinya kata dia, layaknya festival tentu akan menampilkan keindahan, estetika, budaya dan kesantunan.
Lanjuynya, pasangan calon maupun partai pengusung harus mengedukasi masyarakat dengan kampanye yang cerdas, memberi solusi alternatif bagaimana membawa daerah mencapai kesejahteraan yang hakiki bagi rakyatnya.
“Karena dengan program yang baik, dan disampaikan dengan simpatik, rakyat akan bisa menilai siapa yang layak menjadi pemimpin nantinya,” jelas Rizki.
Untuk itu, pendekatan yang paling baik untuk mencuri hati rakyat adalah pendekatan budaya, karena hal itu sangat sesuai dengan kultur masyarakat Indonesia, sebagai bangsa yang besar dan berbudaya.
“Untuk mencegah terjadinya konflik sosial, masing-masing kubu yang sedang bertarung dalam Pilkada, hendaknya menjaga situasi tetap kondusif, dengan mengemas kampanye damai dan bernuansa budaya,” tuturnya.
Rizki juga mengungkapkan pentingnya kejujuran, dan membangun kesadaran untuk saling menghargai, terutama pada saat kampanye terbuka dan rapat umum.
Rizki berharap dengan diadakan kampanye tertutup dapat mengedepankan adu gagasan, maupun program dalam upaya mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, bersih dan berwibawa, demi mensejahterakan rakyat.
(IP)
