ORI

Kendari, Metropol – Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Perwakilan Sultra akan terus memantau dan mengawasi penyelesaian kasus meledaknya granat di Kampus UHO. “Kita akan monitor proses pengusutannya hingga tuntas,” ujar Aksah, SE, Kepala Ombudsman Perwakilan Sultra kepada Metropol saat ditemui di Makorem 143/HO Senin (3/4) kemarin.

Dikatakannya peristiwa meledaknya granat di UHO merupakan suatu tragedi memilukan  yang harus dituntaskan karena telah menimbulkan korban jiwa. “Itu bukan main-main, ada korban nyawa di sana apalagi itu terjadi di lembaga pendidikan,” ujarnya lagi.

Menurutnya, Rektor UHO dan Kapolda Sultra harus bertanggung jawab penuh atas tragedi tersebut. Dirinya juga menyesalkan adanya pernyataan Rektor UHO Prof. Dr. Ir. H. Usman Rianse, MS., di salah satu media lokal yang menyebutkan latihan yang dilaksanakan oleh pihak kemanan kampus untuk mencegah gerakan radikal masuk ke kampus. “terlalu jauh, kalau berpikirnya ke sana. Pengamanan Kampus cukup latihan bela diri,” ujar mantan sekum HMI cabang Kendari tersebut.

Selain itu Aksah juga menyayangkan simulasi pengenalan bom oleh instruktur menggunakan bahan peledak asli. “Kalau memperenalkan granat, kenapa harus pakai granat asli. Kan cukup alat peraga, apalagi itu juga merupakan bahan berbahaya,” jelasnya.

Sebagaimana diketahui simulasi pengenalan bahan peledak di Kampus UHO beberap saat lalu telah menyebababkan 4 korban tewas dan 8 luka-luka. Satu korban tewas pada simulasi pengenalan bom tersebut adalah  merupakan anggota Brimob Polda Sultra dan 3 orang lainnya adalah satpam UHO.

(Tim MP Sultra)

KOMENTAR
Share berita ini :