Gubuk Herni

Tampak gubuk reyot yang ditempati Herni.

Bogor, NewsMetropol – Herni (37) warga Kampung Cimanganten, RT.02 RW.11, Desa Bantarkaret, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat sangatlah memprihatinkan.

Kenapa tidak? Rumah yang tidak jauh dengan perusahaan BUMN PT. Antam Pongkor hingga sekarang belum tersentuh bantuan program sosial rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) baik  Pemerintah Kabupaten Bogor maupun di pihak perusahaan itu sendiri, sehingga ibarat Rutilahu di lumbung emas memprihatinkan.

Ibu 3 anak ini sudah 10 tahun  tinggal di gubuk reyot dengan keadaan rumah tidak layak huni, seluruh bangunan tersebut lapuk termakan usia. Kondisi rumah tersebut mengalami kemiringan akibat menahan beban berat gentang.

“suami saya hanyalah bekerja serabutan, kalau ada yang nyuruh ya kerja, beginilah keadaannya,” kata Herni kepada NewsMetropol, Selasa (22/09/2020)

Rumah yang berukuran sekira 6×9 meter persegi hanya terbuat dari kayu, bambu serta bilik bambu yang keadaanya sudah pada bolong tentunya membuat hembusan angin amat dingin bagi penghuninya apalagi ketika hujan deras akan membuat basah dibagian dalam rumah.

“Sudah berkali kali di survei mah, difotoin terus tapi sampe sekarang belum pernah dibangun,” ujar Herni.

Walau pun keadaan hujan, Hernih bercerita, Ia dan keluarganya masih menempati rumahnya meski  terancam dan tidak menutup kemungkinan sewaktu waktu keadaan rumahnya bisa terjadi ambruk.” Keadaan hujan pun kami dan kelurga masih tinggal disini pak,   semoga allah selalu melindungi kami dan tidak terjadi apa apa,” imbuhnya.

Hanya berlantaikan plesteran semen sebagian sudah pada hancur, tidak ada fasilitas yang kelihatan berharga di dalam rumahnya,” Kami berharap ada perhatian pemerintah yang bisa membangun rumahnya,” harapnya.

Dikesempatan itu, ketua RT 02 RW 11 Ahmad diakuinya  tidak semua warga Kampung Cimanganten  memiliki rumah gedong, tetapi warganya yang hidupnya dibawah garis kemiskinan dengan menempati rumah tidak huni juga masih banyak.

“Selain rumah Herni, kata Ahmad, rumah Utay, Yanto, Nadi, Acang, Komi dan rumah Apit sama saja kondisi rumahnya tidak layak huni, Namun rumah Herni keadaannya paling parah,” terang Ahmad

Menurut Ahmad, jika dihitung-hitung di wilayah RW 11, masih ada belasan rumah kondisi serupa tidak layak huni.

“Hal ini semua sudah diajukan, dan kami serahkan sama pemerintah desa,” tuturnya.

Sementara Staf Desa Bantarkaret Mamur mengaku data base rumah tidak layak huni di wilayahnya terbilang masih tinggi, sebanyak 200 data base Rutilahu yang belum dilakukan perbaikan.

“Termasuk Kampung Cimanganten saat ini belum tersentuh perbaikan Rutilahu. 10 kuota untuk rehabilitasi Rutilahu dari Pemda 2020  termasuk 2 unit bangunan rumah dari PT. Antam kita bangun diwilayah kampung lain, dan sekarang pengerjaannya sudah rampung,” terang Makmur.

Kepala Desa Bantarkaret, H. Hotib mengatakan, bahwa data base Rutilahu di desanya masih cukup banyak, oleh karenanya untuk memperingan pemerintah desa, mudah-mudahan dari PT Antam maupun Pemkab Bogor ada penambahan kuota untuk perbaikan Rutilahu.

Seperti beberapa waktu lalu, karena mendesak warga Kampung Bantarkaret dan Kampung Babakan berswadaya membangun rumah warga yang kondisinya rusak berat.

“Sangat berharap ada penambahan jumlah kuota Rutilahu dari Perusahaan PT Antam Pongkor,” harap Kepala Desa Bantarkaret itu.

Hal serupa, dikatakan Kepala Desa Pangkaljaya, Taupik Sumarna bahwa sejak tahun  2019 pihak perusahaan PT Antam membantu perbaikan Rutilahu hanya 4 unit rumah, namun di tahun 2020 berkurang menjadi 2 unit rumah.

“Semoga menjadi bahan pertimbangan pihak perusahaan untuk adanya penambahan jumlah kuota Rutilahu,” pungkasnya.

(Rahman)

KOMENTAR
Share berita ini :