Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar, Dibyanto

Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar, Dibyanto, S.Pd., M.Si.

Blitar, NewsMetropol – Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar memberikan kebebasan pada Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Blitar untuk memilih sekolah  lima hari  atau enam hari dalam sepekan.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar, Dibyanto, S.Pd., M.Si mengatakan, tawaran itu sesuai dengan Peraturan Presiden (PP) nomor nomor 87 tahun 2017 dimana setiap sekolah diberi kebebasan untuk memilih lima hari sekolah atau enam hari sekolah.

“Untuk memberlakukan PP tersebut, harus mendapatkan persetujuan dari masyarakat atau wali murid dan komite sekolah. Bila wali murid dan komite sekolah tidak menyetujuinya, maka pihak sekolah tidak dapat memaksakan untuk melaksanakan lima hari sekolah atau enam hari sekolah,” ujar Dibyanto kepada NewsMetropol saat ditemui di Kantornya, Kamis (22/2).

Dibyanto meminta, pihak sekolah yang akan  melaksanakan lima hari sekolah mempertimbangkan lingkungan sekitar, misalnya pondok pesantren yang ada di sekitar sekolah.

Sebab kata dia, lima hari sekolah akan menambah jam belajar siswa di sekolah, sehingga pulangnya lebih sore dibandingkan enam hari sekokah.

“Lima hari sekolah itu bukan full day ya, jadi beda,” tegasnya.

Dibyanto menuturkan pihaknya tidak menghendaki kegiatan belajar mengajar lima hari sekolah nanti mengganggu kegiatan madrasah diniyah siswa yang sudah terbiasa terbentuk di masyarakat.

Karena menurutnya, sekolah umum dan madrasah diniyah sama-sama pentingnya, sehingga tidak boleh berbenturan.

“Jangan sampai madinnya terganggu, karena siswa terlalu lama belajar di sekolah hingga pukul 3 atau 4  sore, sehingga siswa sudah capek tidak berkonsentrasi lagi untuk belajar agama. Kalau lima hari sekolah, ya pulangnya jam 2.00 WIB, supaya masih dapat belajar mengaji di rumah,” jelasnya.

Dibyanto menjelaskan, bahwa pendidikan lima hari dan enam hari sekolah, sama-sama baiknya karena bila lima hari sekolah, maka untuk hari Sabtu bisa digunakan untuk pendidikan karakter anak di dalam keluarga.

“Lima hari sekolah pada hari Sabtu anak bisa membantu orang tua untuk bersih-bersih, belajar memasak, dan lain sebagainya. Ini kelebihan lima hari sekolah,” imbuhnya.

Kelebihan kedua, dengan lima hari kata dia, di sekolah-sekolah diajarkan pendidikan karakter yang lebih padat di dalam sekolah.

“Untuk hari Sabtu, nanti siswa dapat menggunakan untuk belajar ektra kurikuler, sehingga siswa dapat membentuk karakter sesuai bidang yang ia minati, seperti pemain bola, atau Pramuka,” terangnya.

Dibyanto menambahkan, jika nanti di suatu daerah ada dua sekokah yang berbeda, maka tidak harus sama untuk melaksanakan lima hari sekolah atau enam hari sekolah maka pihaknya memberi kebebasan pada sekolah untuk memilih, asalkan mendapatkan persetujuan dari warga masyarakat, wali murid dan juga komite sekolah.

Bahkan, ia juga meminta pada guru untuk fleksibel, tidak harus memaksakan lima hari sekolah atau enam hari sekolah karena menurut dia, jam mengajar atara lima hari dan enam hari sekolah akan tetap sama dalam setiap minggunya.

(IP)

KOMENTAR
Share berita ini :