Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), Amir Bakry. (Ist).
Tanjung Selor, NewsMetropol – Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), Amir Bakry, mengatakan potensi tambak di Kaltara yang mencapai 129 ribu hektare sangat menjanjikan jika dikelola dengan baik.
Kata dia ratusan ribu hektare tambak tersebut tersebar di seluruh kabupaten dan kota yang ada di Kaltara.
“Memang tambak kita luas, tetapi harus diakui juga produksinya masih rendah, jika dibanding dengan luas tambak.
Itu yang harus jadi perhatian kita bersama,” kata Amir Bakry, seperti dikutip Tribunkaltim.co, di Tanjung Selor, Rabu (26/2).
Lanjutnya, salah satu komoditi yang dapat dikembangkan dari sektor pertambakan di Kaltara adalah budidaya udang windu.
Bahkan kata dia, Kaltara merupakan salah satu penghasil udang windu di Indonesia, selain Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan.
“Daerah lain di Indonesia itu sudah beralih ke budidaya udang vaname.
“Kalau udang windu, bisa dikatakan produksidi Kaltara lebih baik dibanding daerah lain, karena kita masih organik,” ujarnya lagi.
Menurutnya meskipun potensi udang windu cukup bagus, namun belum bisa maksimal, karena ada beberapa fakto seperti bibit udang yang masih mengandalkan dari luar Kaltara.
“Selain karena faktor penyakit, benur kita sekitar 60-70 persen mengandalkan dari luar Kaltara, utamanya Jawa. Sedangkan di Jawa juga produksinya mulai menurun,” terangnya.
Amir Bakry juga menyebut potensi budidaya udang belum bisa maksimal, karena daya dukung lahan yang menurun akibat penggunaan pestisida oleh petani
Amir Bakry juga menyebutkan bahwa merosotnya harga udang di Kaltara juga mempengaruhi minat petani untuk meningkatkan produksinya.
Jelas dia, merosotnya harga udang tersebut dikarenakan produksi besar-besaran udang vaname di India, Afrika Selatan dan berbagai negara lainnya.
“Adanya bombardir produksi udangvaname juga salah satu penyebab merosotnya harga udang.Normalnya harga udang kita itu Rp 260 ribu sampai Rp 270 ribu perkilo,” ujarnya.
Faktor lainnya, tambah dia, disebakan karena sejumlah negara penghasil udang mengalihkan tujuan ekspornya ke Jepang.
“Padahal, sekira 70 persen udang asal Kaltara diekspor ke Jepang,” sebutnya.
India yang dulunya mengekspor udang ke China, mengalihkan tujuan ekspornya ke Jepang karena adanya wabah Corona di China.
Makanya sekarang ada persaingan harga di Jepang, yang turut berpengaruh terhadap harga udang kita,” imbuhnya.
Namun kata dia, penurunan harga udangbukan hanya di Kaltara, Indonesia.
Tetapi juga di berbagai negara penghasil udang lainnya.
Amir Bakry berharap harga udang segera normal, agar bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat, khususnya pembudidaya udang di Kaltara.
(Red/Sumber)
