Danrem 143/Halu Oleo, Kolonel Arm Dedi Nurhadiman,SIP, saat memberikan pembekalan bagi 5.100 mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata, Universitas Halu Oleo (UHO). di gedung Auditorium Mokodompit Universitas Halu Oleo (UHO), Kamis (19/7).
Kendari, NewsMetropol – Komandan Korem 143/Halu Oleo, Kolonel Arm Dedi Nurhadiman,SIP, memberikan pembekalan bagi 5.100 mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Halu Oleo (UHO) TA. 2017/2018.
Pembekalan para mahasiswa yang akan melaksanakan KKN dilaksanakan di gedung Auditorium Mokodompit Universitas Halu Oleo (UHO), Kamis (19/7).
Ketua panitia Drs. Sahbudin, M.Si, mengatakan bahwa mahasiswa yang menerima materi pembekalan dari Danrem 143/HO merupakan mahasiswa peserta KKN gelombang pertama pada tahun 2018 ini.
Kata dia tema yang diusung pada KKN UHO Gelombang pertama tahun 2018 ini adalah “Dengan Semangat GNRM, UHO Bersama Stakeholder Wujudkan Program Pembangunan Daerah Sultra”.
Sementara itu, Danrem 143/HO dalam materinya yang berjudul “Peran Korem 143/HO Dalam Membantu Program Pembangunan di Daerah Sultra” menjelaskan tentang tugas pokok dan fungsi TNI sesuai dengan amanah Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI.
“Peran TNI sebagaimana yang termuat dalam Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 Tentang Tentara Nasional Indonesia dalam pasal 5 dijelaskan bahwa TNI berperan sebagai alat negara di bidang pertahanan yang dalam menjalankan tugasnya berdasarkan kebijakan dan keputusan politik negara,” ujarnya.
Selanjutnya kata dia, pada pasal 7 disebutkan Tugas pokok TNI adalah menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara.
“Tugas pokok sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan cara; Operasi militer untuk perang dan operasi militer selain perang,” ujarnya lagi.
Lanjutnya, pada Operesi Militer Selain Perang (OMSP) ada 14 item yang menjadi tugas pokok TNI yaitu untuk; mengatasi gerakan separatisme bersenjata; mengatasi pemberontakan bersenjata; mengatasi aksi terorisme; mengamankan wilayah perbatasan; mengamankan objek vital nasional yang bersifat strategis; melaksanakan tugas perdamaian dunia sesuai dengan kebijakan politik luar negeri; mengamankan Presiden dan wakil presiden beserta keluarganya; memberdayakan wilayah pertahanan dan kekuatan pendukungnya secara dini sesuai dengan sistem pertahanan semesta; membantu tugas pemerintahan di daerah; membantu kepolisian Negara Republik Indonesia dalam rangka tugas keamanan dan ketertiban masyarakat yang diatur dalam undang-undang; membantu mengamankan tamu negara setingkat kepala dan perwakilan pemerintah asing yang sedang berada di Indonesia; membantu menanggulangi akibat bencana alam, pengungsian, dan pemberian bantuan kemanusiaan; membantu pencarian dan pertolongan dalam kecelakaan (search and rescue); serta membantu pemerintah dalam pengamanan pelayaran dan penerbangan terhadap pembajakan, perompakan, dan penyelundupan.
Lebih jauh dia mengatakan, dalam melaksanakan fungsi pertahanan di darat TNI AD mengemban dua fungsi utama yaitu fungsi Pertempuran dan fungsi Pembinaan Teritorial.
“Fungsi pertempuran menyelenggarakan pertempuran di darat, yang meliputi manuver, intelijen, tembakan, dukungan, perlindungan, Kodal dan informasi rangka pertahanan negara di darat,” imbuhnya.
Sedangkan fungsi Pembinaan Tritorial jelas Danrem adalah menyelenggarakan perencanaan, pengembangan, pengarahan, dan pengendalian potensi wilayah pertahanan dengan segenap aspeknya untuk menjadi kekuatan sebagai ruang, alat dan kondisi juang yang tangguh untuk kepentingan pertahanan negara di darat.
“Keberadaan komando teritorial sebagai bagian dari gelar TNI AD, khususnya di wilayah Sulawesi Tenggara yaitu Korem 143/HO beserta jajaran Kodim dan Babinsa disamping dipersiapkan menghadapi pertempuran dengan negara agresor maupun pemberontakan bersenjata, pada saat ini lebih terfokus pada transformasi Binter dalam rangka mencegah atau mengatasi terjadinya konflik vertikal maupun horizontal, termasuk ikut mengakselerasi program pembangunan di daerah Sulawesi Tenggara,” terangnya.
Pada bagian lainnya Danrem, menjelaskan secara gamblang tentang peranan TNI (Korem beserta Jajaranya red) dalam menjaga kemananan wilayah Sultra beserta stakeholder lainnya bersinergi agar wilayah kepulauan ini tetap aman dan kondusif.
Danrem juga memotivasi kepada para peserta KKN agar berbuat dan memberikan yang terbaik bagi daerah Sultra karena suatu saat nanti kalianlah yang akan menjadi pemimpin di wilayah Sultra ini.
Mantan Danpusdikintelad Kodklat TNI AD ini, juga menceritakan tentang pengalamannya meniti karier di militer, mulai dari Jabatan Danton sampai dengan saat ini menjadi Danrem merupakan kerja keras dan perjuangan.
Oleh karena itu Alumni Akmil ’91 ini memberikan pesan moril kepada para peserta KKN, bahwa kesuksesan itu diraih dari hasil perjuangan yang keras.
“Suskes itu diraih dari perjuangan keras dan tak kenal menyerah, oleh karena itu kalian jangan gampang menyerah, belajar,belajar dan belajar,” jelas Danrem.
Kepada para mahasiswa KKN UHO, Danrem mengingatkan para mahasiswa untuk mewaspadai berkembangnya faham radikalisme dan terorisme di wilayah Sulawesi Tenggara.
“Sultra sangat kaya dengan bahan mineral terutama nikel dan sejenisnya oleh karena itu daerah ini akan menjadi incaran banyak investor dari berbagai negara,” terangnya.
Oleh karena itu pesan dia, sebagai kader intelektual Danrem mengajak para mahasiswa UHO untuk bersama-sama mengawasi dan memantau kegiatan exploitasi SDA di wilayah Sulawesi Tenggara.
Menutup paparannya, Danrem menegaskan Korem 143/Ho, beserta jajaran siap mendukung pelaksanaan KKN UHO berjalan sukses, bahkan dirinya berjanji untuk mengingatkan Dandim, Danramil serta Babinsa di jajarannya untuk mambantu para Mahasiswa UHO melaksanakan kegiatan KKN di wilayah masing-masing.
Sedangkan Rektor Universitas UHO Prof. DR. Muhammad Zamrun Firihu S.Si., MSi., M.Sc, dalam sambutannya mengatakan KKN gelombang pertama tahun 2018 ini diikuti oleh 5100 orang Mahasiswa dari berbagai Fakultas Universitas Halu Oleo. Mereka akan menempati desa-desa yang tersebar di empat daerah yaitu Konsel, Konawe Utara, Kendari dan Bombana.
“Sengaja untuk penempatan wilayah KKN tahun ini di wilayah daratan, mengingat gelombang laut saat ini cukup tinggi, sehingga pihak rektorat memutuskan pelaksanaan KKN gelombang pertama tahun ini dilaksanakan di wilayah Sultra daratan,” ujar Rektor.
Turut hadir dan memberikan materi pada saat pembekalan KKN UHO, Dirintel Polda Sultra Kombes Pol Hartoyo dan para Dekan UHO.
(Salim Budi Agung)
