Jakarta, NewsMetropol – Sungguh sangat memprihatinkan setiap hari media memberitakan kekhawatiran dan ketakutan dengan penambahan statisktik jumlah orang yg terpapar dan korban Covid-19.
Lebih parah lagi banyak pejabat publik yang mengumkan dipublik bahwa dirinya terpapar dan dalam proses isolasi mandiri.
Dengan berita yang menimbulkan kekawatiran dan ketakutan bagi masyarakat, dengan banyaknya pejabat negara yang terpapar, apalagi dengan pemberlakuan PSBB kembali membuat rakyat semakin menderita.
Kekonyolan semakin menjadi jadi pejabat negara yang setiap hari mengingatkan tentang protokol kesehatan malah mereka yang terpapar dan diumumkan lagi di publik.
Seharusnya dalam kondisi seperti ini para pemimpin, tokoh nasional, elit politik dan pejabat negara tampil memotivasi rakyat dan memberi solusi, bukan menambah kekhawatiran dan ketakutan.
Belum lagi beban rakyat makin berat dengan kebutuhan sehari hari dalam kondisi ekonomi lagi sedang terpuruk, ditambah lagi beban tambahan harus mendampingi anak belajar secara online dalam keadaan stress dan harus mencari nafkah.
Anak-anak sekolah jadi korban dari situasi ini dimana mereka tidak bisa ke sekolah tetapi diwajibkan belajar secara online dengan pendampingan orang tua di rumah.
Padahal pendidikan bukan hanya transfer ilmu tetapi juga membentuk karakter.
Bagaimana mungkin belajar online membentuk karakter? Apalagi orang tua yg mendampingi kapsitasnya berbeda beda dengan kesibukan masing-masing belum lagi beban harua mencari nafkan di kondisi ekonomi yang lagi sulit.
Yang lebih parah lagi para aparat penegak aturan berdasarkan perda yang mengatur tentang pengendalian Covid-19 dilapangan dengan arogan dan seenaknya memperlakukan dan mempermalukan masyarakat, memberikan sanksi ditempat bagi para pelanggar protokol kesehatan.
Ada yang dihukum dengan push up, memanjat tiang listrik dan lain lain padahal mereka tulang punggung keluarga yang lagi mencari nafkah hanya kebetulan lupa mengenakan masker lalu kemudian dihukum dengan cara tidak beradab padahal bisa dengan pendekatan yang lebih elegan dan manusiawi dengan membagi masker dan multi vitamin yang harganya terjangkau dan bisa disiapkan pemerintah .
Kekonyoloan semakin menjadi jadi oleh para pejabat negara yang memanfaatkan situasi ini dengan dengan mecari keuntungan pribadi berprilaku sok pahlawan padahal tidak memberi solusi apa-apa.
Di mana para WAKIL RAKYAT yang dengan janji kampanyenya selalu besama rakyat, membela rakyat dan berjuang untuk kepentingan rakyat?
Di mana para Kepala Daerah dengan janji kampanyenya untuk melayani serta mensejahterakan rakyat?
Dimana Presiden telah menginstruksikan jajaran kabinetnya untuk fokus penanganan tanpa harus mengorbankan sektor ekonomi masyarakat.
Dimana kaum intektual yang memiliki segudang ide dan gagasan hebat yang belum juga menemukan soluai terbaik mengatasi masalah ini?
Riset by riset hingga saat ini tidak memiliki hasil memuaskan, sehingga muncul berbagai anekdot-anekdot yang dipertontonkan melalui kebijakan timpang.
Kekonyolan apa lagi yang akan dipertontonkan di masa sulit ini?
Solusinya hadapi dengan ikhlas serta teruslah berikhtiar insya Allah akan ada jalan keluar sebagaimana janji Allah bahwa tidak akan ada ujian yang aku berikan kepada umat manusia melampaui kemampuan yang dimiliki manusia, sebab di balik ujian selalu ada hikmahnya maka gunakanlah akal dan hatimu untuk menyelesaikan masalah yang ada di depanmu saat ini.
Oleh : Syarifuddin Daeng Punna
(Tokoh Masyarakat Makassar)
