Perwira Seksi Komunikasi Sosial (Pasi Komsos) Kapten Inf. Hardani saat memberikan materi pada kegiatan Program Perkenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PPKKMB) di Stikes Yarsi, Mataram, Rabu (13/9).
Mataram, Metropol – Danrem 162/WB melalui Perwira Seksi Komunikasi Sosial (Pasi Komsos) Kapten Inf. Hardani menegaskan, Civitas Akademika harus dapat menjadi agen penangkal Proxy War.
“Akademisi, calon-calon duta intelektual ilmu kesehatan tetap harus memahami perjalan panjang sejarah perjuangan bangsa sehingga menjadi modal dasar yang baik dalam pengabdian,” ujar Kapten Hardani saat memberikan materi Kehidupan Berbangsa dan Bernegara pada kegiatan Program Perkenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PPKKMB) di Stikes Yarsi, Mataram, Rabu (13/9).
Pada kesempatan tersebut, Pasi Komsos mengingatkan kepada seluruh peserta PPKKMB Stikes Yarsi Mataram, baik di dalam kampus maupun di tengah masyakat agar dapat mewaspadai ancaman yang dapat menganggu keutuhan NKRI.
Lanjutnya, acaman Proxy War (perang proxy) bagi bangsa Indonesia adalah suatu hal yang nyata mengingat negara Indonesia memiliki banyak potensi kekuatan dan keunggulan-keunggulan sekaligus potensi kekuatan dan keunggulan itu dapat digunakan saling bertantangan sehingga dapat mengancam eksistensi NKRI.
“Bangsa Indonesia berdiri berdasarkan kesepakatan dan kemauan dari berbagai kelompok suku, bangsa, ras, bahasa namun memiliki perasaan dan tujuan yang sama. Dengan “Bhineka Tunggal Ika” bangsa kita menjadi bangsa yang kaya, kuat, berdaulat dan toleran,” ujarnya lagi.
Untuk itu kata dia, kekayaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia harus dapat dijaga dan dilestarikan oleh semua komponen bangsa terutama generasi Indonesia yang memiliki kemampuan intelektual.
Dia juga mengingatkan, bahwa pemicu proxy war diantaranya adalah karena perebutan sumber energi dan sumber pangan.
“Kondisi penduduk bumi saat ini sudah tidak seimbang, dimana jumlah penduduk semakin banyak namun jumlah energy semakin menipis,” terangnya.
Dia menuturkan persediaan energi, pangan dan air di bumi semakin menipis, sehingga banyak bangsa yang melakukan migrasi ke negara-negara yang memiliki iklim tropis untuk mendapatkan sumber energi dan pangan itu.
“Salah satu negara tujuan dari migrasi itu adalah Indonesia, karena kita memiliki semua sumber energi dan sumber pangan,” tuturnya.
Dia berharap civitas akademika khususnya mahasiswa Stikes Yarsi Mataram dapat mengerti dan memahami bahaya proxy war, sehingga dapat bersama-sama mewaspadai dan menangkal berbagai cara yang digunakan negara dalang untuk menghancurkan suatu Negara melalui berbagi aspek berbangsa dan bernegara baik itu melalui ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, agama dan pertahanan keamanan.
“Mari kita buka mata, telinga, hati dan perhatian kita untuk melihat negeri yang kita cintai ini, tingkatkan rasa cinta dan kesadaran akan nasionalisme, sehingga bangsa kita akan mengalami perubahan untuk menuju kehidupan yang lebih baik,” harapnya.
Dia juga mengatakan bahwa berbagai cara akan digunakan oleh negara-negara lain untuk dapat menguasai negara Indonesia. Melalui proxy war negara dalang akan membuat generasi Indonesia agar tidak kreatif dan inovatif namun sebaliknya akan lebih bergaya hedonistik dan konsumtif.
“Generasi kita akan dirasuki kehidupan gaya kosmopolitan seperti sex bebas, penyalagunaan Narkoba, LGBT, Neoterorism, Bahaya internet dan lain lain sebagainya,” jelasnya.
Dia menegaskan bahwa manakala bangsa Indonesia tidak menyikapinya dengan baik dan bijaksana, hal ini akan membawa kehancuran pada generasi masa depan Bangsa sehingga dengan sendirinya akan melemahkan dan menghancurkan kehidulan berbangsa dan bernegara.
(Rahmat)
