Koko Haryanto Anggota DPRD Beltim saat menandatangani berita acara di Polres Beltim, Sabtu (22/2).
Belitung Timur, NewsMetropol – Pembalakan kayu kembali terjadi di hutan Kawasan Gunong Sepang, Belitung Timur. Aktivitas pembalakan liar tersebut ditemukan oleh warga Desa Mempaya pada sore hingga malam hari, Sabtu (2/2).
Pada saat ditemukan, sekitar pukul 19.00, kayu tersebut dibawa menggunakan mobil truck. Tidak tanggung tanggung ada 4 mobil truck yang membawa hasil pembalakan tersebut.
Di dalam mobil tersebut tampak ada ratusan keping kayu olahan jenis papan, rencananya kayu tersebut akan diangkut ke wilayah Kecamatan Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung. Namun setelah ditangkap basah, masyarakat langsung menggiring mobil tersebut ke halaman kantor Desa Mempaya.
Anggota DPRD Kabupaten Belitung Timur Koko Haryanto yang juga ikut bersama masyarakat menyampaikan, pembalakan kayu tersebut sudah berkali kali dilakukan, namun kali ini dalam jumlah kayu olahan yang cukup besar.
“Dari hasil interogasi kita kepada sopir yang tertangkap, mereka melakukan ini atas suruhan pemilik kayu,Kami meminta para sopir yang membawa kayu tersebut berbicara jujur, apa adanya, jangan sampai kasus ini hanya sampai ke mereka saja, kita mau tau siapa dalangnya,” tegas Koko.
Setelah dibuatkan berita acara dari desa, para terduga langsung diserahkan ke Polres Belitung untuk diproses lebih lanjut. Beberapa saksi, kata Koko, juga dihadirkan di Polres, karena ingin proses hukum ditegakkan dengan seadiladilnya.
“Saya apresiasi kepada semua warga Desa Mempaya yang dengan sigap menindak kegiatan ilegal loging ini,walalupun tidak bisa semua tertangkap, oleh karena banyak yang kabur ke dalam hutan,” ungkap Koko.
Untuk itu menurut Koko, kasus ini harus terus dikawal, sebagai pelajaran bagi pihak-pihak yang berkepentingan siapapun dia, maka harus ditindak bila menjarah hutan dalam kawasan.
“Hutan kita ini masih sedikit yang tersisa, maka mari kita manfaatkan dengan arif dan bijaksana melalui program-program pemberdayaan.Keseimbangan Hutan, lahan dan sungai sangat tergantung pada manusia yang mengelolahnya, jangan sampai nantinya menimbulkan bencana yang semakin besar. Cukuplah banjir tahun lalu sebagai pelajaran bagi kita untuk hati-hati dalam memanfaatkan alam ini, karena alam juga bisa marah,” tandasnya
(Sahrus Salis)
