Pelabuhan Klang Selangor Malaysia.
Kuala Lumpur, NewsMetropol – Para ekonom Malaysia memperkirakan hubungan perdagangan antara Malaysia dan Turki akan meningkat setelah pandemi Covid-19 berlalu.
Dilansir Anadolu Agency, Rabu (19/8), akademisi Universitas Malaya Prof. Dr. Mohd Nazari İsmail menyoroti ekonomi Malaysia mengalami kontraksi minus 17,1 persen pada kuartal kedua tahun ini.
“Kontraksi yang sudah diprediksikan sebelumnya di Malaysia itu juga terjadi di negara lain. Meski tidak seburuk di Inggris dan Amerika Serikat, kontraksi ekonomi Malaysia lebih buruk jika dibandingkan dengan negara-negara seperti China,” kata Nazari.
“Kami tak dapat menjamin pemulihan ekonomi setelah Kovid-19,” kata Nazari terkait kapan Malaysia akan keluar dari krisis ini dan memasuki proses pemulihan ekonomi.
Pasalnya kata dia, industri tulang punggung perekonomian negara ini masih stagnan.
Selain itu, dia menambahkan bahwa ekonomi Malaysia bergantung pada negara-negara seperti AS dan China, oleh karena itu negaranya perlu mengikuti jalur ekonomi negara-negara tersebut untuk pemulihan.
Memperhatikan potensi pemulihan ekonomi Malaysia yang rendah pada 2020, Mohd Nazari menekankan bahwa masalah utama yang harus dibahas dalam jangka pendek adalah meminimalkan kerugian.
Perlu kamar dagang bersama
Prof. Nazari menyatakan bahwa Malaysia dapat mengambil pinjaman dari lembaga internasional untuk meminimalkan dampak Covid-19 terhadap perekonomian.
Namun dia mengungkapkan pemerintah Kuala Lumpur harus berhati-hati karena pinjaman internasional dapat memicu inflasi.
Mohd Nazari mengatakan setelah pandemi yang bisa mengikuti jalan bagaimana hubungan perdagangan Malaysia dengan Turki:
“Berbicara khusus untuk Malaysia, kami dapat mengatakan bahwa proses pemulihan negara tersebut akan lambat dalam situasi saat ini”.
“Saya tidak dapat memprediksi berapa lama proses pemulihan ekonomi Turki akan berlangsung, tetapi kami melihat bahwa lira Turki terdepresiasi pada periode ini,” ungkap Nazari seraya menilai potensi hubungan perdagangan Malaysia-Turki.
“Dalam kondisi seperti ini, Malaysia bisa meningkatkan impor dari Turki karena impor dari Turki akan lebih murah.”
Nazari mengatakan negaranya melihat Turki sebagai pintu ke Eropa, sebaliknya Turki juga melihat Malaysia sebagai jembatan ke Asia Tenggara.
“Oleh karena itu perdagangan antar kedua negara akan terus berlanjut dan akan diperkuat,” imbuh Nazari.
“Untuk mengefisiensikan perdagangan bilateral, kedua belah pihak perlu mendirikan Kamar Dagang Turki-Malaysia yang kuat,” tukas dia.
Dampak pada industri konstruksi dan otomotif
Kepala Gerakan untuk Keadilan Monetari Malaysia Prof. Dr. Kameel Mydin mengungkapkan bahwa Malaysia mengalami proses pemulihan ekonomi yang lambat.
Menyinggung pandemi akan merugikan sektor konstruksi, otomotif, dan industri lainnya di Malaysia, Kameel mengatakan dengan pencabutan kebijakan penundaan utang oleh pemerintah, sebagian besar perusahaan dalam sektor ini akan mengalami kebangkrutan.
Profesor Kameel menekankan bahwa pemerintah harus mengedarkan 150 miliar ringgit Malaysia ke pasar untuk memastikan pemulihan ekonomi yang efektif dan fluiditas di pasar.
Menurut Kameel, negara-negara Islam, khususnya Malaysia dan Turki, dapat menciptakan peluang dalam hubungan perdagangan bilateral mengingat krisis Covid-19 sangat mungkin mengubah keseimbangan internasional.
“Malaysia berpotensi beli lebih banyak produk dari Turki”
Menyinggung AS dan Uni Emirat Arab baru-baru ini nampak membentuk aliansi baru dari beberapa negara, seperti kesepakatan dengan Israel, Profesor Kameel menekankan Malaysia dan Turki juga dapat membentuk kemitraan perdagangan baru untuk meningkatkan hubungan bilateral selama periode ini.
Menggarisbawahi perdagangan antar negara Islam juga harus ditingkatkan pasca-pandemi, Kameel mengungkapkan Turki, Malaysia, Pakistan, Iran dan Indonesia dapat menjadi andalan di dunia Islam.
Negara-negara ini dapat bersatu dan memimpin upaya penandatanganan perjanjian perdagangan bebas multilateral antara negara-negara Islam, tambah Kameel.
“Dengan cara ini, penggunaan mata uang asing akan berkurang dan negara-negara Islam mulai mengurangi ketergantungan terhadap asing,” tukas dia.
(Red/AA)
