Jakarta, NewsMetropol – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, mengatakan, belum semua potensi sumber energi fosil atau tidak terbarukan dapat dikonversi menjadi cadangan.
Kata dia, meskipun jumlah cadangan minyak bumi nasional sebesar 4,77 miliar barel, namun jika tidak dilakukan eksplorasi, cadangan tersebut akan habis dalam waktu dekat.
“Dengan asumsi tidak ada penemuan cadangan energi fosil yang baru, maka minyak bumi akan habis dalam waktu 9 tahun,” ujarnya dalam seminar virtual, Kamis (21/10).
Selain itu kata dia, cadangan gas bumi hanya menyisakan 77,3 triliun kaki kubik dan batu bara sebesar 36,7 miliar ton.
“Gas bumi akan habis dalam waktu 22 tahun, dan batu bara akan habis dalam waktu 65 tahun,” ujarnya lagi.
Oleh karenanya, Arifin menekankan pentingnya eksplorasi, guna meningkatkan cadangan sumber energi fosil.
Pasalnya terang dia, masih banyak potensi sumber energi belum dapat ditindaklanjuti oleh para pemangku kepentingan.
“Inilah yang menjadi tantangan kita ke depan, untuk melakukan eksplorasi yang masif, sehingga kita bisa mendeteksi adanya resources-resources baru untuk bisa memenuhi kebutuhan energi jangka panjang,” tuturnya.
Dia menilai dengan semakin terkurasnya cadangan energi fosil merupakan momentum tepat untuk menggenjot bauran energi baru terbarukan (EBT).
“Transisi energi mutlak diperlukan untuk menjaga ketersediaan energi di masa mendatang,” jelas Arifin.
Sementara itu, Ketua umum Forum Satu Nusantara (Fortuna) Thamrin Barubu menyampaikan, bahwa temuan baru soal energi terbarukan tersebut sudah ada.
“Temuan baru soal energi ini sudah ada. Fortuna selama ini mengawal soal temuan-temuan energi terbarukan ini. Kalau energi ini bisa dimanfaatkan oleh negara maka kedepan minyak kita akan tetap stabil,” ujar Thamrin Barubu di Jakarta, Rabu (21/10).
Thamrin menyebutkan bahwa energi terbarukan tersebut adalah Solar Hijau yang memiliki daya penghematan sebesar 25 persen.
“Temuan baru ini saya pikir menjadi solusi, kenapa demikian karena penghematan minyak fosil sebanyak 25 persen. 25% itu adalah produk alam indonesia sawit, air dan hasil karya inovasi anak bangsa, yang mengahasilkan proses pembakaran sempurna dan mengakibatkan emisi yang ramah lingkungan,” jelasnya.
(Red)
