Athena, NewsMetropol – Yunani mengatakan akan memperkuat militernya dengan persenjataan baru, pasukan, dan mengembangkan industri pertahanannya sebagai respon ketegangan dengan negara tetangganya Turki sehingha telah memicu kekhawatiran konflik terbuka antara kedua sekutu NATO tersebut.
Dikutip Al-Jazeera, Selasa (8/9), Ankara saat ini tengah menghadapi melawan Yunani dan Siprus karena hak eksplorasi minyak di bagian timur laut tengah.
Yunani dan Turki telah mengerahkan angkatan laut dan angkatan udara untuk menegaskan klaim mereka bersaing di wilayah tersebut.
“Pemimpin Turki mengeluarkan ancaman perang hampir setiap hari dan membuat pernyataan provokatif terhadap Yunani,” ujar juru bicara pemerintah Yunani Stelios Petsas pada hari Senin kemarin.
Merespon sikap Turki itu, Yunani menanggapi dengan kesiapan politik, diplomatik dan operasional, dan bertekad untuk melakukan apa pun yang diperlukan untuk melindungi hak berdaulatnya.
Lebih jauh Pestas mengatakan bahwa Perdana menteri Kyriakos Mitsotakis dalam pidato ekonomi tahunan telah mengumumkan rincian rencana untuk meng-upgrade militer negaranya.
“Kami berhubungan dengan negara-negara yang bersahabat untuk memperkuat peralatan angkatan bersenjata kami,” urai Petsas.
Pekan lalu, Yunani menghasilkan 2,5 miliar euro dalam lelang obligasi karena negara tersebut berupaya meningkatkan pengeluaran militernya.
Media Yunani melaporkan pembelian bisa jadi mencakup jet tempur Rafale buatan Prancis dan setidaknya satu kapal fregata Prancis.
Petsas mengatakan Mitsotakis akan bertemu dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron pada kamis di sela-sela pertemuan negara-negara Eropa di Korsika, Mediterania.
Sementara itu Sabtu lalu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memperingatkan Yunani untuk memasukkan perundingan tentang sengketa klaim teritorial Mediterania Timur atau menghadapi konsekuensinya.
“Mereka akan memahami bahasa politik dan diplomasi, atau di lapangan dengan pengalaman yang menyakitkan,” katanya.
Sedangkan Menteri Luar Negeri Yunani Nikos Dendias mengatakan bahwa Turki adalah satu-satunya negara yang mengancam akan berperang dengan sesamanya.
Dendias juga mengatakan bahwa Yunani selalu siap untuk berdialog dengan Turki, namun dalam dialog berdasarkan hukum internasional.
Untuk diketahui Yunani dan Turki sudah berada di ambang perang tiga kali sejak pertengahan 1970-an, termasuk hak eksplorasi di Laut Aegea.
Ketegangan kedua negara memuncak ketika Turki mengirim kapal riset seismik, Oruc Reis, disertai kapal-kapal perangnya.
Sementara itu Yunani juga mengirim kapal-kapal perangnya sendiri ke daerah itu dan menyiagakan angkatan bersenjatanya.
(Red/AJ)
