Tampak anak didik Ponpes Al-Hikam di Dusun Montor Sugia, Desa Toya, Kecamatan Aikmel, Lombok Timur.
Lotim, NewsMetropol – Menjamurnya sekolah swasta atau lebih sering di sebut Pondok Pesantren di desa-desa terpencil di Lombok Timur patut di beri apresiasi para pendirinya.
Namun apa jadinya jika keberadaan sekolah-sekolah swasta disalahgunakan oleh oknum untuk mengeruk keuntungan dari siswa binaannya.
Seperti Pondok Pesantren Al-Hikam, Dusun Montor Sugia, Desa Toya, Kecamatan Aikmel, Lombok Timur yang dengan sadisnya memotong Beasiswa hingga 90%, Jumat (1/6).
Setidaknya 29 siswa dari 39 siswa yang menerima bantuan beasiswa di bulan Mei 2018 dari Kementerian Agama di potong dengan jumlah yang sangat fantastis. Masing-masing siswa yang harusnya menerima bantuan sebesar Rp.750.000 di potong sebesar Rp.400.000 per orang.
Sementara 10 siswa lainnya yang di nyatakan sudah berhenti atau tamat sekolah di potong Rp.700.000 dari Rp.750.000 beasiswa yang harusnya di terima.
Untuk mengakali siswa yang sudah tidak ada di sekolah, pihak Ponpes mengganti nama-namanya dengan siswa yang lain, namun siswa pengganti ini hanya di berikan Rp.50.000.
“Kita yang menerima beasiswa sebanyak 39 orang, 10 orang siswa sudah berhenti tapi di ganti dengan siswa yang lain,” ujar siswa berinisial R dengan lugunya.
R pun dengan detail bercerita tentang pemotongan yang dilakukan oleh Ponpes tempatnya menimba ilmu.
“Dari 29 orang siswa kita di potong Rp.400.000, kita cuma terima Rp.350.000. Sementara siswa yang 10 orang itu cuma di kasi Rp. 50.000, di potong Rp.700.000,” jelas R saat dimintai keterangan.
Hal senada juga di sampaikan oleh siswa berinisial I, uang beasiswa yang harusnya di terima saat pencairan di BRI Aikmel sejumlah Rp.750.000 di potong Rp.400.000.
“Pulang dari Bank kita di kumpulkan lagi di sekolah, disana baru uang kita di potong oleh Pak Ustaz, dia bilang jangan cerita-cerita di rumah,” keluhnya.
Pihak Ponpes yang di konfirmasi membenarkan pemotongan sejumlah beasiswa itu, namun ia berdalih pemotongan itu untuk kepentingan siswa.
“Iya memang benar beasiswa kami potong untuk memperbaiki mobil sekolah yang setiap hari di pakai untuk menjemput siswa sekolah. Disamping itu, uang itu kita pakai untuk mengganti uang masjid yang kita pinjam untuk memperbaiki sekolah,” jelas Ustadz Sunardi, pimpinan pondok pesantren Al-Hikam.
Praktek keji ini juga dilakukan oleh pondok pesantren di Dusun Pertemuan, Desa Toya Kecamatan Aikmel, Lombok Timur, tidak jauh dari pondok pesantren Al-Hikam. Bahkan praktek ini sudah di lakukan selama 4 tahun.
Siswa di pondok pesantren ini pun melakukan pemotongan hingga Rp.600.000 per siswa. Sementara siswa yang sudah berhenti beasiswanya di ambil penuh oleh pondok pesantren.
“Kita sudah hampir 4 tahun melakukan pemotongan beasiswa, ini untuk menunjang operasional sekolah,” jelas Syaefudin, kepala sekolah di Ponpes ini.
Ia juga menjelaskan, untuk mendapatkan siswa baru khususnya siswa SMK, pihaknya memberikan uang sejumlah Rp.500.000 ke anak yang mau masuk SMK.
“Yang mau masuk SMK kita berikan Rp.500.000 supaya mereka mau melanjutkan sekolahnya. Uang itu kita ambilkan dari dana BOS,” jelasnya.
(Rahmat)
