Reporter : Risyaji | Editor : Widi Dwiyanto
JAKARTA, NEWSMETROPOL.id – PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP Nonpetikemas) menegaskan komitmennya dengan menerapkan konsep green port sebagai bagian dari transformasi operasional perusahaan yang tidak hanya berfokus pada keberlanjutan lingkungan, tetapi juga perlindungan kesehatan pekerja serta penciptaan dampak sosial yang berkelanjutan bagi masyarakat sekitar wilayah operasional, Senin (25/05/2026).
Direktur Utama PTP Nonpetikemas, Indra Hidayat Sani, menyampaikan bahwa transformasi menuju green port bukan hanya tentang menjaga lingkungan, melainkan juga memastikan kualitas hidup dan kesehatan pekerja di kawasan pelabuhan.
“Green port bukan hanya tentang menjaga lingkungan, tetapi juga tentang memastikan keberlangsungan operasional yang sehat dan aman bagi pekerja. Kami memandang bahwa perlindungan terhadap kesehatan pekerja adalah bagian yang tidak terpisahkan dari keberlanjutan bisnis,” ujarnya.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penerapan sistem manajemen lingkungan berbasis ISO 14001 dan penilaian PROPER, pengendalian emisi, efisiensi energi, pengelolaan limbah berbasis prinsip 3R, serta optimalisasi proses bongkar muat yang lebih ramah lingkungan.
Di sisi operasional, perusahaan juga mengimplementasikan berbagai inovasi seperti penggunaan lampu LED, pemanfaatan overhead crane (OHC) untuk mengurangi ketergantungan alat berbahan bakar fosil, hingga elektrifikasi alat bongkar muat sebagai bagian dari transisi menuju operasional rendah emisi.
Implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam seluruh lini bisnis PTP Nonpetikemas sejalan dengan program Green Port dan Green & Smart Port yang diinisiasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi. Sebagai operator terminal multipurpose, perusahaan menjalankan berbagai inisiatif untuk mendukung operasional pelabuhan yang lebih bersih, efisien, aman, dan berkelanjutan.
Dalam penanganan komoditas curah cair, langkah preventif pencemaran dilakukan melalui penyiapan oil boom sebelum kegiatan bongkar muat serta peningkatan kesiapsiagaan melalui pelatihan IMO OPRC guna memastikan respons cepat terhadap potensi pencemaran laut.
PTP Nonpetikemas juga menempatkan aspek kesehatan pekerja sebagai bagian utama implementasi green port. Aktivitas bongkar muat, khususnya pada komoditas curah kering, memiliki potensi paparan debu dan faktor lingkungan lainnya yang dapat berdampak pada kesehatan pekerja.
“Green port adalah kebutuhan, bukan lagi pilihan. Industri pelabuhan harus bergerak menuju operasional yang lebih bersih dan berkelanjutan, karena di balik itu ada aspek yang paling penting, yaitu kesehatan dan keselamatan manusia,” ujar Senior Manager Sekretaris Perusahaan PTP Nonpetikemas, Fiona Sari Utami.
Sebagai langkah mitigasi, perusahaan menerapkan pendekatan HSSE melalui HIRADC (Hazard Identification, Risk Assessment and Determining Control) dan Health Risk Assessment (HRA) untuk mengidentifikasi potensi bahaya dan risiko kesehatan secara menyeluruh di 11 cabang operasional perusahaan.
Program kesehatan kerja seperti medical check-up (MCU), fit to work, serta pengukuran kualitas lingkungan kerja juga dilakukan secara berkala guna memastikan kondisi pekerja tetap sesuai standar keselamatan dan kesehatan kerja.
Berbagai langkah konkret di lapangan turut diterapkan untuk menekan paparan polusi, antara lain penyiraman rutin area dermaga dan stockpile, penerapan dust suppression system, penggunaan alat ukur debu, hingga pengaturan operasional untuk mengurangi waktu idle alat berat.
Budaya keselamatan kerja juga terus diperkuat melalui pelaksanaan lebih dari 1,27 juta safety patrol sepanjang tahun 2025 serta lebih dari 14.000 safety briefing yang dilakukan secara konsisten di seluruh wilayah operasional perusahaan. Pemanfaatan HSSE Dashboard turut mendukung pemantauan kondisi lapangan secara real-time dan mempercepat pengendalian potensi risiko melalui integrasi sistem digital.
Selain fokus pada operasional hijau dan kesehatan pekerja, PTP Nonpetikemas juga memperkuat kontribusi sosial dan lingkungan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang selaras dengan prinsip ESG dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Hingga saat ini, PTP Nonpetikemas telah melaksanakan berbagai program TJSL yang terstruktur dalam beberapa pilar utama, antara lain pendidikan, lingkungan, pengembangan UMKM, serta sosial kemasyarakatan. Terdapat 3 program berbasis Creating Shared Value (CSV) terdiri dari PTP Peduli K3 yang dilaksanakan di seluruh cabang dan bekerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan, kompetensi dan sertifikasi profesi bagi Pekerja Harian untuk memperkuat layanan di Terminal Kijing, serta EduPort sebagai upaya peningkatan kapasitas mahasiswa dan menciptakan ragam inovasi dunia kepelabuhanan.
Dalam aspek lingkungan, perusahaan juga berpartisipasi dalam penanaman 11.000 bibit mangrove sebagai bagian dari komitmen pembangunan pelabuhan hijau bersama ekosistem Pelindo Group.
Sementara pada aspek sosial, program Employee Social Responsibility (ESR) melibatkan ratusan partisipasi aktif karyawan dalam berbagai kegiatan seperti bantuan pendidikan, pembagian sembako dan takjil, donor darah, santunan anak yatim, hingga bantuan tanggap bencana.
PTP Nonpetikemas meyakini bahwa keberhasilan bisnis tidak hanya diukur dari kinerja operasional, tetapi juga dari kontribusi nyata terhadap kesehatan pekerja, keberlanjutan lingkungan, dan pembangunan sosial masyarakat sekitar.
