Bupati Bantaeng, Nurdin Abdullah

Bantaeng, Metropol. Hari jadi Kabupaten Bantaeng ke 760, yang diperingati pada tanggal 7 Desember 2014, ditandai rapor merah dibeberapa proyek pembangunan yang telah dilaksanakan dalam kurun waktu lima tahun.

Dari beberapa proyek pembangunan yang telah dilaksanakan, layaknya diharap memberi kontribusi terhadap peningkatan pendapatan asli daerah (PAD). Namun sampai saat ini belum menuai hasil sebagaimana diharapkan, sehingga pembangunan Kabupaten Bantaeng tahun 2014 ini, dinilai mendapat rapor merah.

Seperti, proyek pembangunan pelabuhan samudera, (APBN). Dan proyek pembangunan rumah susun (APBN), dimana kedua proyek ini berlokasi di Desa Bonto Jai, Kecamayan Bissappu, Proyek pembangunan rumah sakit umum daerah (APBN), dan proyek jalan pesisir pantai (APBN) di Kecamatan Bantaeng, Proyek pembangunan Balai Latihan Kerja (APBN) di Desa Baruga, serta proyek pembudidayaan tanaman talas.

Pembangunan Pelabuhan Samudera, sudah berselang lebih kurang 10 tahun, dengan menghabiskan biaya puluhan milyar. Namun sampai saat ini belum dapat difungsikan, sementara pembangunan rumah susun dengan anggaran + Rp. 20 milyar, sudah rampung, tetapi belum ada penghuni, karena sebagian besar warga masih memiliki lahan kosong untuk membangun rumah tinggal sendiri, sehingga keberadaan RUSUN dianggapnya tidak tepat sasaran.

Sedang, pembangunan BLK di atas lahan seluar 15 ha, yang pembangunannya telah memasuki tahap II, dengan anggaran untuk tahap II ini adalah sebesar Rp 13.013.133.000,- (APBN tahun 2014), terkesan dipaksakan. M e m a n g , S y a h r u l B a y a n , selaku Kepala Dinas Sosial dan Ketenagakerjaan Kabupaten Bantaeng, saat ditemui di ruang kerjanya, mengatakan tahun 2015 BLK sudah dapat dioperasikan, dan akan menyerap 1.500 orang anak didik yang akan dilatih menjadi tenaga terampil, namun lapangan kerja yang ada tampak belum siap untuk menampung tenaga terampil sebanyak itu.

D e m i k i a n p u l a p r o y e k peruntukan penambahan jalan pesisir pantai, disulap menjadi proyek pembuatan baru jalan pesisir pantai, dengan biaya + Rp. 37 milyar (APBN 2014), sehingga proyek ini terkesan tidak tepat sasaran.

Juga, pembangunan rumah sakit umum daerah, di bangun dengan bangunan berlantai 8 (delapan) dan berkesan mewah. Namun tidak mempertimbangkan biaya operasional yang akan dibutuhkan dalam pelaksanaan pemeliharaan gedung dan pelayanan kesehatan nantinya.

S e m e n t a r a p r o g r a m pembudidayaan tanaman talas, yang digembor-gemborkan bekerjasama dengan perusahaan Jepang, dengan iming-iming dapat meningkatkan pendapatan asli daerah, dari hasil penjualan talas ke Jepang, hanya menuai sebuah harapan yang jauh dari apa yang diharapkan, bahkan hasil dari tanaman talas dianggap tidak sesuai mutu dan kualitas yang diharapkan oleh produsen, ada apa?

Proyek-proyek ini, akan menjadi ‘Pekerjaan Rumah’ Pemkab Bantaeng dan Anggota Dewan yang terhormat, agar kedepan pembangunan di Bantaeng, dapat berdampak positif dan memberi nilai positif, baik terhadap peningkatan perekonomian rakyat, maupun peningkatan pembangunannya, sehingga di hari jadi tahun depan, Kabupaten Bantaeng dapat diwarnai dengan kegiatan pembangunan yang tepat sasaran bukan hanya sebuah pencitraan. (Jalal Maulana)

KOMENTAR
Share berita ini :