Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok, AKBP Roberthus Yohanes De Deo menggelar press release pengungkapan kasus perdagangan anak, peredaran obat ex Malaysia dan materai palsu.

Jakarta, Metropol – Polres Pelabuhan Tanjung Priok merilis hasil pengungkapan kasus perdagangan anak, peredaran obat eks Malaysia dan perdagangan materai palsu, pada Selasa (11/4) kemarin.

Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok AKBP Roberthus Yohanes De Deo mengatakan, pengungkapan kasus penjualan obat obatan asal Malaysia itu setelah pihaknya melakukan pengawasan terhadap kedatangan KM Bahari Indonesia dari Pontianak di Pelabuhan Tanjung Priok pada 27 Maret lalu.

“Setelah dilakukan pemeriksaan atas KM Bahari Indonesia, petugas menemukan sebuah truk ekspedisi KDX Jakarta berisi 14 koli obat obatan produksi Malaysia tanpa izin edar dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM),” ujar Kapolres kepada sejumlah awak media.

Kata dia, obat yang juga menggunakan materai palsu tersebut rencananya akan dikirim ke Medan dengan menggunakan ekspedisi Wira Express.

Lanjut dia, meskipun dalam kasus perdagangan obat itu pihaknya tidak dapat meringkus pelaku namun jajarannnya berhasil  mengamankan barang bukti berupa 864 kotak obat merk Jianbu Huqian Wan, 1152 kotak merk Jiang Chun Yi Suan, dan 864 kotak merk Ren Sheng Zhen Fei Wan. “Semua obat-obat itu poduksi Selangor, Malaysia,” katanya lagi.

Sementara itu, dalam kasus perdagangan anak di bawah umur, Kapolres mengatakan, kasus itu berhasil diungkap atas hasil penyelidikan Team Cyber Patrol Satreskrim Polres Pelabuhan Tanjung Priok.

“Team menemukan sebuah iklan menawarkan jasa pelayanan seks bagi pria dengan tarif Rp 800 ribu sampai Rp 1 juta pada Situs Website Lender.org dan Website Semprot.com.,” imbuhnya.

Dia menambahkan, dari penyelidikan yang dilakukan oleh jajarannya, pada 31 Maret lalu,  pihaknya berhasil mengamankan tersangka KA salah seorang mahasiswa. Dari pengakuannya kepada aparat, tersangka telah menjual gadis di bawah umur berinisial MYG di salah satu hotel di wilayah Sunter , Jakut.

Dari hasil pemeriksaan polisi, tersangka diketahui telah  melakukan kegiatan tersebut selama satu tahun. “Setiap MYG habis memberikan layanan, tersangka mendapat bagian Rp 300 ribu,” terang Kapolres.

Akibat perbuatannya tersangka dibidik dengan pasal berlapis antara lain UU Perlindungan Anak , UU ITE dan KUHP.

Sedangkan kasus perdagangan materai palsu, Polisi meringkus  tersangka CA alias I aIias S alias RS alias MR karena menperjual belikan meterai tempel nominal Rp 6000 yang  diduga kuat palsu.

Roberthus menerangkan dalam menjalankan aksinya tersangka bersama R yang kini masuk list DPO menggunakan beberapa situs (Website). “Tersangka CA mendapat meterai palsu dengan harga Rp 50 ribu/lembar atau Rp 1000/keping dari R,” ujarnya.

Dia menambahkan, selanjutnya meterai tersebut dijual kembali seharga Rp 150 ribu/lembar atau Rp3000 /keping. “Barang bukti yang diamankan 4.395 keping meterai nominal Rp 6000 dan 50 keping nominal 3000,” pungkasnya.

(Risyaji)

KOMENTAR
Share berita ini :