Ketua Majelis Ulama Indonesia Bidang Luar Negeri KH. Muhyiddin Junaidi. (Foto: Istmw).
Jakarta, Metropol – Ketua Majelis Ulama Indonesia Bidang Luar Negeri KH. Muhyiddin Junaidi, M.A. mengatakan, pengucilan terhadap Qatar oleh negara Arab merupakan bagian skenario dan konspirasi Amerika dan Yahudi.
Sebagaimana dilansir Republika.co.id, Minggu (11/6) Muhyyiddin menyebutkan, pemutusan hubungan Arab Saudi cs ke Qatar disebabkan Qatar tidak mau menyetorkan dana dalam jumlah yang sangat besar kepada Amerika Serikat sebagai jaminan fasilitas keamanan yang disediakan oleh negara Paman Sam kepada negara-negara Timur Tengah.
Lanjut Muhyiddin, keberatan Qatar atas upeti jasa kemanan Amerika itu dikarenakan jumlah dana yang harus disetor ke Amerika sama dengan jumlah dana yang disetorkan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab padahal luas negara Qatar tidak seluas kedua negara tersebut.
Kata dia, sikap Qatar tersebut telah memantik kemarahan Amerika, sehingga dicari alasan untuk menghukum Qatar dari pergaulan internasional.
Dibuatlah issue bahwa Qatar mempunyai hubungan dekat dengan Iran dan mendanai gerakan radikal ataupun terorisme serta memberikan suaka kepada para pemimpin Ikhwanul Muslimin, Hamas dan sebagainya.
Menurut Muhyiddin, jika alasan tersebut dijadikan ukuran hubungan kedekatan dengan Iran, kata dia, Uni Emirat Arab begitupun juga Oman dan Kuwait juga mempunyai hubungan dagang yang besar dengan Iran. Sehingga dia bertanya-tanya, kenapa tiga negara itu dibiarkan?
Menyikapi permasalahan yang melanda Qatar tersebut, Muhyiddin mengatakan, halbitu sebagai kesempatan bagi Indonesia untuk memainkan peran aktifnya di kawasan teluk.
Kata dia, terlebih Indonesia memiliki modal besar reputasi dan pengalaman menjadi juru damai dalam mendamaikan pihak-pihak yang bersengketa. Lain halnya Iran dan Turki yang dinilai tidak netral dalam mendamaikan negara yang bersengketa.
Dia menambahkan, selain itu Indonesia memiliki hubungan yang baik dengan semua negara tersebut. Konon pula Emir Qatar dijadwalkan akan mengunjungi Indonesia pada bulan Oktober mendatang.
(M. Daksan)
