“TNI dan Polri telah bekerjasama dengan menandatangani perjanjian pendidikan bersama”

Jakarta, Metropol – Bentrok antara anggota TNI dan Polri telah terjadi yang ke sekian kalinya. Kali ini bentrokan terjadi di Kabupaten Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat yang memakan korban jiwa dan luka-luka.

Berdasarkan keterangan Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Endang Sodik mengenai insiden di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, yang menewaskan Prajurit Dua Yuliadi merupakan tindak kriminal yang dilakukan oknum anggota Kepolisian Resort Polewali Mandar. Oknum anggota Polres tersebut sudah diamankan dan akan diproses secara hukum.

Insiden itu bermula pada acara balapan sepeda motor di Sirkuit Permanen Sport Centre. Anggota TNI bernama Prajurit Kepala Laksmono ditegur polisi karena melewati batas arena. Tak terima ditegur, mereka berkelahi hingga dilerai masing-masing komandan. Selang dua jam, tembakan meletus di lokasi yang berbeda dari tempat perkelahian tapi masih di sekitar arena balap sepeda motor. Saat diperiksa, Prajurit Dua Yuliadi, sudah tergeletak dengan luka tembakan di perut sebelah kiri. Dia tewas dalam perjalanan menuju rumah sakit. sedangkan pembakaran Pos Polisi dan sejumlah kendaraan setelah kejadian itu merupakan aksi spontanitas akibat tewasnya Yuliadi, sebagai bentuk emosi jiwa dan solidaritas.

Panglima TNI Gatot Nurmantyo mengatakan, jika konflik TNI dan Polri merupakan desain pihak luar dalam strategi perang proksi yang menjadi ancaman dalam perang di masa depan. Karenanya, Gatot berharap ada penguatan kelembagaan dan berkomitmen dalam menjaga kebersamaan antar lembaga, dengan cara adanya komunikasi antar lembaga untuk mencegah salah paham dan konflik.

Perang proksi atau proxy war adalah perang yang terjadi, ketika lawan menggunakan pihak ketiga sebagai pengganti berkelahi satu sama lain secara langsung. Sementara kekuasaan kadang-kadang digunakan pemerintah sebagai proksi, aktor non-negara kekerasan, dan tentara bayaran, pihak ketiga lainnya yang lebih sering digunakan.

Diharapkan bahwa kelompok-kelompok ini bisa menyerang lawan tanpa menyebabkan perang skala penuh. Proxy war adalah sebuah konfrontasi antara dua kekuatan besar dengan menggunakan pemain pengganti untuk menghindari konfrontasi secara langsung dengan alasan untuk mengurangi risiko konflik yang berisiko kehancuran fatal. perang ini biasanya dimanfaatkan oleh pihak ketiga. Yang bertindak sebagai pemain pengganti adalah negara kecil, namun kadang pemain itu bisa pula berupa non-state actors, seperti LSM, Ormas, kelompok masyarakat atau perorangan. Proxy merupakan kepanjangan tangan dari suatu negara yang berupaya mendapatkan kepentingan strategisnya namun menghindari keterlibatan langsung suatu perang yang mahal dan berdarah.

Menurut Jendral TNI Gatot Nurmantyo, indikasi adanya proxy war di Indonesia diantaranya; gerakan separatis, demonstrasi massa, sistem regulasi yang merugikan, peredaran narkoba, pemberitaan media yang provokatif, penyebaran porno grafi dan bebas, tawuran pelajar dan bentrok antar kelompok.

Untuk menekan konflik antara anggota TNI dan Polri. Kedua pemimpin lembaga ini telah bekerjasama dengan menandatangani perjanjian pendidikan bersama anggota Kepolisian dan prajurit TNI selama tiga bulan. Perjanjian tersebut ditandatangani oleh Jenderal TNI Moeldoko dan Jenderal Sutarman, ketika keduanya masih menjadi Panglima TNI dan Kapolri. Namun pendidikan tersebut belum terlaksana.

Jenderal Gatot Nurmantyo mengatakan, perselisihan TNI-Polri kerap terjadi di tingkat bawah. Menurutnya, sebanyak 80 persen konflik dilakukan oleh prajurit tingkat dua berpangkat bintara. Rencananya, Gatot akan mengevaluasi sistem pendidikan pada tingkat awal.

Dalam rangka melaksanakan pesan Presiden Joko Widodo agar tidak ada konflik antar lembaga dan setiap lembaga harus saling menguatkan, serta menindaklanjuti perjanjian kerjasama pendidikan bersama anggota Kepolisian dan prajurit TNI. Maka Panglima TNI dan Kapolri sudah mencanangkan kegiatan bersama di setiap Kabupaten/Kota, agar saling mengenal dan berkomitmen untuk menjaga kerukunan dan perdamaian.

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan Kepala Kepolisian Jenderal Badrodin Haiti memutuskan menggabung Akademi Militer dan Akademi Kepolisian dalam pendidikan yang sama. Penggabungan pendidikan ini dilakukan setelah terjadi konflik antara anggota TNI dan polisi Poliwali Mandar.

“Mulai tahun ini akan melakukan kegiatan bersama. Para taruna akan menjalani pendidikan di Akademi selama tiga bulan dan akan dievaluasi,” kata Gatot Nurmantyo.

(Delly M)

KOMENTAR
Share berita ini :