Foto ; Presiden RI, Jokowi didampingi Menko Polhukam Luhut Pandjaitan, Menko PMK Puan Maharani, Seskab Pramono Anung, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, Gubernur DKI Basuki T. Purnama dan Kapolda Metro Jaya Irjen Tito Karnavian

“Aksi peledakan bom bisa dicegah melalui pembinaan”

Jakarta, Metropol – Presiden Jokowi langsung memangkas sejumlah agenda di Cirebon dan Majalengka yang telah dijadwalkan beberapa hari sebelumnya karena ada aksi pengeboman di Jakarta. Dia meminta masyarakat tetap tenang dan memastikan suasana terkendali.

“Negara, bangsa dan rakyat tidak boleh takut, tidak boleh kalah oleh aksi teror seperti ini dan saya harap masyarakat tetap tenang karena semua terkendali,” tutur Jokowi pukul 12.16 WIB di Rumah Kerang, Jl Ki Ageng Tapa, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, baru-baru ini.

Setelah itu Jokowi menyatakan akan segera kembali ke Jakarta setelah menghadiri satu acara lagi. Tadi dia hanya berkata akan langsung menggelar rapat masalah keamanan, sehingga percepat jadwal.

Rupanya sesampainya di Jakarta, Jokowi sempat menghampiri lokasi kejadian pengeboman dan penembakan di Jl MH Thamrin. Dia didampingi Menko Polhukam Luhut Pandjaitan, Menko PMK Puan Maharani, Seskab Pramono Anung, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, Gubernur DKI Basuki T. Purnama dan Kapolda Metro Jaya Irjen Tito Karnavian.

Meski peninjauan tak berlangsung lama, tapi dia menunjukkan bahwa situasi sudah aman terkendali. Setelah itu barulah rapat dimulai dan tercapai beberapa kebijakan terkait keamanan.

Motif Bom di Kawasan Sarinah Balas Dendam

Peledakan bom yang terjadi di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat, merujuk pada aksi terorisme yang pernah terjadi di Mumbai, India. Model-model teror ini dilakukan kelompok ekstrimis Al Qaeda atau Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Apalagi ISIS sudah pernah merilis dan mengancam untuk melakukan teror seperti teror Paris di Indonesia. Model teror yang dilakukan para pelaku menggunakan model bom serentak di beberapa tempat seperti Bom Natal tahun 2000 lalu dengan pelaku yang cukup banyak.

“Motifnya adalah balas dendam setelah aksi penangkapan teroris di beberapa daerah bulan Desember lalu, dan mengancam Kapolri, Kapolda Metro Jaya, dan lain-lain. Mereka sisa-sisa yang tidak terjaring pada operasi polisi kemarin,” ujar pengamat terorisme dari Barometer Institute, Robi Sugara di Jakara.

Menurutnya, aksi peledakan bom seperti di kawasan Sarinah bisa dicegah melalui pembinaan yang baik terhadap keluarga dan lingkungan masyarakat. Para pelaku teror bom apalagi bom bunuh diri biasanya anak-anak muda yang belum punya pemahaman agama dan ideologi yang kuat.

“Kalau di setiap keluarga dan lingkungan bisa memperkuat keamanan baik warganya maupun wilayahnya, tentu aksi-aksi teror seperti itu bisa cepat dideteksi, karena biasanya orang yang akan melakukan tindakan terorisme, gerak-geriknya bisa diketahui,” ucapnya.

Direktur Pencegahan Deputi I Bidang Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi Badan Nasional Penaggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol Hamidin menyampaikan, pelaku peledakan bom di kawasan Sarinah disinyalir terkait beberapa tersangka yang telah ditangkap polisi di Bekasi, Mojokerto, dan Bandung.

“Misi mereka sebelumnya adalah target besar seperti Polda Metro dan Mabes Polri. Setelah gagal, mereka menyisir target seperti pos-pos polisi,” terang Hamidin.

(Suwondo S)

KOMENTAR
Share berita ini :