Bekasi, Metropol – Kawasan Megapolitan, Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) berada dalam status krisis air bersih. Ini dikarenakan pasokan air bersih yang tersedia belum sebanding dengan kebutuhan masyarakat Jabodetabek.

Padahal pemerintah sebelumnya menargetkan pada 2015 Indonesia sudah mampu mencapai target penyediaan dan pelayanan air bersih 68,87 persen dari jumlah penduduk. Hal tersebut seperti tertuang dalam taget Millenium Development Goals (MDGs) 2015.

Seperti diketahui, saat ini Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) harus menghadapi tantangan berat untuk mempertahankan kelangsungan bisnisnya. Umumnya kondisi PDAM yang kurang sehat disebabkan masalah keuangan dan manajemen.

Berdasarkan data Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (Perpamsi), saat ini ada 171 PDAM dinyatakan sehat. Sebanyak 157 PDAM kurang sehat. Lalu 28 PDAM dikategorikan restrukturisasi dan sakit.

Direksi PDAM Tirta Bhagasasi Bekasi dan PDAM Tirta Patriot Bekasi mengakui, hingga saat ini pihaknya kewalahan memenuhi permintaan air bersih dari masyarakat Kota dan Kabupaten Bekasi. Jumlah permintaan cukup banyak. Namun, karena keterbatasan kemampuan membangun instalasi pengolahan air (IPA) dan jaringan distribusi, cakupan pelayanan masih jauh dari yang diharapkan.

Pengakuan itu diungkapkan secara terpisah Direktur Utama (Dirut) PDAM Tirta Bhagasasi Bekasi, Usep Rahmat Salim, dan Dirut PDAM Tirta Ptariot Bekasi, TB Hendi Suhendi.

PDAM Tirta Bhagasasi Bekasi milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi dan Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi hingga akhir Maret 2015, baru memiliki konsumen sebanyak 188.356 sambungan langsung (SL).

Kapasitas produksi dari 36 IPA yang ada hanya menghasilkan air bersih 2.635 liter per detik. Padahal, PDAM ini melayani masyarakat Kota dan Kabupaten Bekasi. PDAM ini sudah terbentuk sejak 34 tahun silam. Saat ini daftar tunggu pelanggan sekitar 232.000, ujar Usep.

Sementara itu, warga Kota dan Kabupaten Bekasi kini berpenduduk sekitar 5,3 juta jiwa. Namun, cakupan pelayanan air bersih jika dirata-ratakan baru sekitar 31 persen dari jumlah penduduk. Jumlah ini masih jauh dari target MDGs. Karena itu, diyakini target tersebut sulit terpenuhi dan tidak akan tercapai.

Sementara itu, PDAM Tirta Patriot Bekasi milik Pemkot Bekasi yang baru terbentuk delapan tahun silam, saat ini baru mampu memproduksi air bersih 480 liter per detik dengan jumlah pelanggan hanya sekitar 254.000 SL.

Di DKI Jakarta, Direktur Utama (Dirut) PDAM Jaya, Sri Widyanto mengungkapkan, sejauh ini jumlah pelanggan mereka telah mencapai 813.000 sambungan.

Sri mengaku, “setiap harinya PDAM Jaya memproduksi air bersih sebanyak 1.557.360.000 liter. Dia menambahkan, untuk kualitas air yang dipasok selama ini telah sesuai dengan SK Menkes No 492/2010. Cakupan air bersih DKI Jakarta baru sebanyak 60 persen yang bisa kami salurkan melalui pipa. Sisanya diperoleh melalui mobil tangki atau pengecer keliling,” tuturnya.

Senior Manager Teknik & Pelayanan PDAM DKI Jakarta, Elly Dermawati mengungkapkan, kendala yang selama ini mereka hadapi terkait persoalan jaringan dan pasokan air baku yang mereka terima. Kendala yang dialami PDAM selama ini yaitu masalah jaringan dan jumlah air baku. Sebenarnya ada 13 sumber air baku yang ada di Jakarta. Tetapi yang bisa dipakai hanya dua sehingga pasokan air kita sangat kurang,” ucap Elly.

Ia mengakui, kondisi pipa yang sudah tua dan berkarat juga menjadi salah satu penyebab banyaknya keluhan dari pelanggan. Kalau mau drinking water sampai ke semua konsumen, sanitasi juga harus diperbaiki. Di Indonesia sanitasi hanya 3 persen yang dikelola. Semuanya harus sinergi dalam pengelolaan supaya hasilnya maksimal, ujarnya.

Elly juga mengeluhkan masih maraknya praktik pencurian air yang menyebabkan mereka harus kehilangan sekitar 30-40 persen pasokannya. Kebocoran pipa ini, ia menyebutkan, “semakin sulit dideteksi akibat betonisasi jalanan Ibu Kota yang menyebabkan sulitnya deteksi dini dan perawatan berkala untuk mencegah semakin bertambahnya kebocoran,” katanya. (Yuyung P)

KOMENTAR
Share berita ini :