Makassar, NewsMetropol – Ketua Aliansi Pemuda Internasional (API) Reski
Sudirman menilai bahwa perang dagang antara Australia dan China yang memanas berpengaruh terhadap sejumlah harga komoditas global, termasuk harga batu bara di Indonesia.
Namun kata dia, bukan berarti banyaknya permintaan pasokan batubara ke China akan menghapus segala penderitaan perusahaan penambang yang banyak mengalami kemerosotan pada era pandemi ini.
“Harga acuan batubara bisa saja dikatakan meningkat akan tetapi meningkat untuk siapa dan menguntungkan siapa,” ujar Reski Sudirman kepada NewsMetropol, Kamis (8/4).
Ketua Aliansi Pemuda Internasional juga mengingatkan pemerintah Indonesia untuk kembali mempertimbangkan membuka peluang ekspor komoditas lain seperti mineral logam.
“Termasuk biji besi, nikel juga material lainnya sehingga perekonomian di Indonesia tetap bisa merata, jangan ada pengecualian,” ujarnya lagi.
Reski menilai, banyaknya perusahaan pertambangan nikel di Indonesia sulit untuk berkembang sebab pembangunan smelter di Indonesia masih cenderung di kuasai oleh investor dari Tiongkok.
“Bagaimana nasib penambang lokal dan tenaga kerja lokal yang selama ini di rumahkan hanya untuk memprioritaskan pengusaha dari negeri seberang China yang sangat di “Tuan” kan di negeri ini,” jelasnya.
(Red)
