IMG-20201117-WA0179

Jakarta, NewsMetropol – Tokoh Masyarakat Sulsel, Syarifuddin Daeng Punna mensinyalir adanya segelintir orang yang memanfaatkan pandemi Covid-19.

Bahkan kata dia, para kaum oportunis tersebut tidak segan melakukan tindak kriminal melalui aplikasi media sosial yang digunakan untuk belajar mengajar secara online.

Lanjutnya, dalam melancarkan aksinya, pelaku grooming ini menggunakan sosial media dengan memasang foto profil guru, kemudian memberikan tugas mata pelajaran sekolah yang berujung pada permintaan foto dan membuat video privasi murid.

“Caranya membujuk hingga mengancam tidak diberikan nilai,” ujar pria yang akrab disapa SAdAP ini, Jum’at (20/11).

Menurutnya, kejahatan di dunia maya tersebut sangat meresahkan orang tua murid karena memunculkan trauma mendalam bagi korban dan keluarganya.

“Apalagi belajar mengajar dengan menggunakan aplikasi media sosial cukup membuat terganggu psikis orang tua murid ditambah lagi adanya masalah ini maka semakin memunculkan rasa was-was bagi kita semua,” ujarnya lagi.

SAdAP berharap pihak kepolisian dapat memantau secara intens aktifitas jagad dunia maya mengingat makin banyaknya modus operandi pelaku kriminalitas.

“Para pelaku grooming tersebut memanfaatkan situasi pandemi ini untuk berselancar di dunia maya dengan menggunakan akun guru yang dikloning, dan rata-rata korban adalah anak sekolah dasar,” terang SAdAP.

Dia pun meminta tanggung jawab Menteri Pendidikan Nadiem Makarim, yang semestinya menyiapkan langkah proteksi yang dilakukan selama belajar mengajar dengan sistem online.

SAdAP bahkan menilai Nadiem tidak proaktif di dalam mengawasi proses belajar-mengajar secara daring.

“Dia hanya mengeluarkan kebijakan tersebut tanpa memperhatikan aspek keamanannya, akhirnya kecolongan dengan kejadian ini, oleh sebab itu saya meminta agar presiden mencopotnya karena lalai dalam menjalankan tugas serta tidak memberi jaminan keamanan bagi siswa di masa belajar mengajar online berlangsung. Kelemahan Nadiem karena tidak berkordinasi dengan pihak kepolisian untuk melakukan patroli cyber di dunia maya terkhusus di akun-akun sosial media yang dijadikan perangkat belajar selama pandemi Covid-19, pada intinya menteri pendidikan sebaiknya diganti saja dan buat Nadiem bisa kembali fokus dengan bisnis gojeknya,” tutup SAdAP.

(Red)

KOMENTAR
Share berita ini :