Ketua Komnas HAM, Hafid Abbas, Ketua Dewan Pembina Kebugis, HM Alwi Hamu, Ketum Kebugis M. Said Saile dan Ketua Panitia, Muh. Akbar Ali dalam acara Bugis International Nightdi di Balaiurang Sapta Pesona Kementerian Pariwisata RI, Jumat, (13/5)

Jakarta, Metropol – Bugis International Night (BIN) digagas dan diprakarsai oleh Panitia bentukan PB KEBUGIS sekitar dua bulan sebelumnya. Acara malam internasional itu dihadiri oleh ribuan tamu dan undangan dari berbagai status sosial dan profesi, termasuk Peserta Kursus Internasional dari Lemhannas RI dari berbagai negara. Dari berbagai perwakilan Negara sahabat, India, Spanyol, Taiwan, Jerman, dan lain-lain. Mereka adalah pecinta, penikmat dan penggemar seni budaya internasional. Acara Bugis International ini berlansung di Balaiurang Sapta Pesona Kementerian Pariwisata RI, Jumat, (13/5).

Acara dimulai dan dibuka oleh Protokol Devi dan Evelin tepat pukul 19.00 dan berakhir 22.10 Wib dengan berbagai suguhan kegiatan. Mulai  menyanyikan Lagu Indonesia Raya yang dipandu oleh Uci hingga tari-tarian tradisional asal Sulawesi Selatan dan luar negeri.

Acara kedua, menyanyikan Mars KEBUGIS Lagu Wanuaku Sidenreng Rappang, dipandu oleh Machica Muchtar, artis nasional dan beken tahun 80 dan 90-an dan diiringi oleh Tim Simponi Kecapi asuhan Emma Rachma.

Acara ketiga, pembacaan doa oleh H. Mazerang Dahlan kemudian dilanjutkan laporan Ketua Panitia, Muh. Akbar Ali.

Acara keempat, adalah pemutaran film berjudul “Imagine Bugis’s Culture”. Film ini berdurasi pendek, hanya 10 menit untuk mengenalkan profil, seni dan budaya Bugis yang terkenal suka merantau (sompe) dan menetap di suatu wilayah dalam dan luar negeri dengan tetap memelihara bahasa dan adat-istiadatnya, sistem pemerintahan demokrasi manusia Bugis yang tekenal Addatuang, jenis kuliner: makanan dan minuman khas: barongko, katiri salah, sanggara balanda, cucuru tenne, roti berre, sampai praktek dan tradisi adat-istiadat yang dapat diungkapkan lewat seni tari seperti: pakkacaping, tari marellau pammase dewata, tari empat etnis dan tari pabissu yang masih terjaga seperti mallettu ada, mappabotting, dan jenis fashion seperti lipa sabbe, songko pamiring dan baju tokko/bodo, terutama kepada tamu-tamu asing dari luar negeri seperti perwakilan Kedutaan India, Spanyol, maupun warga Negara asing yang sudah bermukim di Indonesia seperti dari Negara Pakistan, Jerman dan Taiwan.

Selanjutnya, sambutan Ketua Umum KEBUGIS Dr. M. Said Saile yang di akhir sambutannya dengan nada optimis menawarkan ke seluruh hadirin, siap menginisiasi pembentukan lembaga atau yayasan Pusat Budaya Bugis. Lembaga ini dipandang penting dan mendesak karena belum ada lembaga bertarap nasional dan internasional yang bisa diklaim sebagai pusat kajian, studi, dan pengembangan nilai-nilai seni dan budaya orang Bugis. Lembaga ini diharapkan segera terbentuk dan diprakarsai oleh para tokoh, pakar, pengkaji dan pengamat seni dan budaya Bugis.

“Lembaga ini akan membuka kelas short program jika ada orang asing dari luar negeri yang ingin belajar kilat bahasa dan budaya Bugis,” kata M. Said Saile.

Sambutan lainnya adalah perwakilan BPP KKSS Drs. H. Abd. Karim, MM dan Wakil Presiden diwakili oleh H. Mohammad Alwi Hamu, Staf Khusus Wapres yang juga adalah Ketua Dewan Pembina PB KEBUGIS.

Kemudian diisi berbagai seni dan tari seperti Tari Khatak dan lagu dari Jawaharlal Nehru Indian Cultural Center (JNICC) yang dipandu langsung oleh Atase Kebudayaan Duta Besar Indian Mr. Rohit Babbar. Kemudian dilanjutkan hiburan lagu Bugis “Indo Logo” oleh Macicha Muchtar dan diiringi oleh Simponi Kecapi asuhan Emma Rachma. Indo Logo adalah sebuah lagu klasik yang sering dinyanyikan oleh ibu-ibu di kampung Bugis, Syair lagu Indo Logo mengandung doa dan impian besar sang ibu agar bayinya kelak  cepat tumbuh sehat menjadi anak yang pintar, baik hati dan sukses membahagiakan keluarga dan kampung halamannya.

Sebelum ditutup Bugis International Night disempurnakan oleh berbagai jenis hiburan musik instrumental dari Spanyol dan tarian empat etnis dari tanah Bugis pimpinan Emma Rachma dan ditutup Tari Pabissu, sebuah tarian klasik Bugis yang berbau mistik, keempat pemain [aktor] utamanya memulai pentas dengan ritual bahasa Bissu yang diyakini sedang berkomunikasi dengan Sang Dewa (Dewata, Tuhan). Hiburan di menit-menit terakhir mendebarkan dada dan jantung penonton yang memenuhi ruangan Balairung Sapta Pesona, mengerikan, Pabissu menusuk-nusuk tangan, lengan, dada dan perutnya dengan benda tajam, keris dan kelihatan kulitnya kebal. Tarian ini didatangkan oleh Pemda Kabupaten Pangkajene Kepulauan Provinsi Sulawesi Selatan atas permintaan Panitia BIN.

Tarian Pabissu ini menyita perhatian penonton dan membikin decak kagum tamu-tamu manca-negara, sampai atase kebudayaan India Mr. Rohit Babbar kepincut ingin berkolaborasi KEBUGIS dalam paggelaran seni dan budaya yang lebih besar di masa mendatang, bahkan mengundang tim kesenian KEBUGIS jalan-jalan dan pentas di negaranya, India. Kota Film Bollywood.

(SM/IR)

KOMENTAR
Share berita ini :