Buwas

Jakarta, Metropol – Minimnya infrastruktur, sumber daya manusia, serta anggaran masih menjadi hambatan dalam memuluskan program rehabilitasi penyalahguna narkoba selama ini. Disamping itu, sebuah kebijakan tidak akan pernah sukses berjalan jika tidak didukung oleh masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah sangat membutuhkan backup dari masyarakat, terutama dalam proses sosialisasi dan juga pengawasan, karena mencegah lebih baik daripada mengobati.

Kepala BNN, Komjen Budi Waseso saat ini telah gencar membangkitkan sikap gerakan stop terhadap Narkoba. Seperti yang dilakukan kunjungannya ke perguruan tinggi negeri yang berada di Jawa Tengah yaitu di Universitas Diponegoro (UNDIP), Kampus Tembalang, Semarang, Jawa Tengah. Saat itu Kepala BNN disambut oleh Pembantu Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan seluruh mahasiswa UNDIP.

Kepala BNN berharap agar mahasiswa dapat berperan aktif, minimal di lingkungan masing-masing, dalam mensosialisasikan bahaya Narkoba. Narkoba sangat berbahaya jika sampai masuk dalam lingkungan perguruan tinggi, karena mahasiswa adalah generasi muda yang menjadi aset negara.

Kepala BNN mendorong mahasiswa agar mendukung penegakan hukum seberat-beratnya bagi bandar dan pengedar Narkoba, yaitu hukuman mati.

Saat ini banyak Narkoba jenis baru dengan harga yang lebih murah beredar di lingkungan kampus. Mahasiswa harus mewaspadai hal tersebut. Jangan sampai tergiur oleh nikmat sesaat.

Narkoba merupakan permasalahan besar bagi bangsa ini dan bukan tanggung jawab BNN semata. Semua pihak harus turut berperan aktif dalam P4GN. Bangkitkan sikap “Gerakan Stop terhadap Narkoba”.

Perangi Narkoba dengan Stiker Stop Narkoba

Dalam menggiatkan gerakan stop narkoba semua cara dilakukan. Beberapa waktu lalu di Surabaya, Badan Narkotika Nasional (BNN) menggandeng pengusaha ritel untuk memerangi bahaya narkoba.

Aplikasinya adalah melakukan penempelan stiker di gerai mini market dan swalayan anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) di Surabaya. Kegiatan serupa sudah dilakukan di Jakarta dan Yogyakarta.

“Permasalahan narkoba adalah permasalahan yang serius. Indonesia adalah pangsa pasar narkoba terbesar di Asia,” kata Kepala BNN Komjen Budi Waseso dalam sambutannya saat itu di Gerakan Stop Narkoba di Circle K Jalan Gubernur Suryo.

Kepala BNN menjelaskan, permasalahan narkoba di Indonesia bukanlah lampu kuning lagi, melainkan sudah lampu merah. Jika tidak ditangani dengan baik, maka akan mengarah ke kehancuran bangsa dan negara. Usaha apapun untuk mencegah bahaya narkoba sangat diapresiasi
Sementara itu, Branch Manager Alfamart Surabaya Nurcahyo Rahutomo sebagai perwakilan peritel mengatakan bahwa penempelan stiker di seluruh toko jaringan Aprindo di Surabaya ini adalah bukti bahwa pengusaha ritel mempunyai komitmen memerangi bahaya narkoba.

Setiap harinya, sebuah mini market atau swalayan di Surabaya melakukan transaksi sebanyak 3.000-4.000 transaksi, yang berarti bahwa ada jumlah yang sama bagi konsumen untuk melihat stiker tersebut. Dan dalam sehari, akan ada 50-60 ribu konsumen mini market dan swalayan di Surabaya yang melihat stiker itu.

BNN Sediakan Kartu Narkoba Smartphone

Selain menempelkan stiker dalam menggerakan stop terhadap narkoba, BNN juga melakukan dengan membagikan 10 ribu kartu “Gerakan Nasional tanpa Narkoba”.

Menurut Kepala BNN Komisaris Jenderal Budi Waseso, kartu tersebut berisikan PIN untuk mengakses situs dan aplikasi smartphone yang berisi ilmu pengetahuan tentang bahaya penyalahgunaan narkoba dari BNN.

Dalam situs tersebut, semua informasi tentang bahaya narkoba, akibat narkoba, perkembangan narkoba, modus-modus penyalahgunaan narkoba, jaringan narkoba, dan lain sebagainya dapat ditemukan, bahkan menyediakan fitur tanya-jawab agar terdapat interaksi yang intens antara masyarakat dan BNN.

Selain itu, menurut Buwas, dalam situs yang beralamat di bnn.ilmci.com tersebut, terdapat pembelajaran bagi murid SD, SMP, serta SMA yang juga termasuk program “Cerdas Anak Bangsa” oleh BNN. “Ada pelajaran sepuluh bahasa asing di sini. Ada juga prediksi soal UN, soal CPNS, TOEFL, TOEIC, dan lain sebagainya. Tapi bukannya saya mematikan Gramedia, lho,” katanya sembari bercanda.

Buwas menambahkan, dalam situs dan aplikasi tersebut, masyarakat juga dapat menemukan nomor-nomor kontak yang bisa dihubungi untuk melaporkan kasus-kasus penyalahgunaan narkoba yang terjadi di sekeliling mereka.

24 SMU se Bandung Timur Deklarasikan Stop Narkoba

Dalam menggiatkan gerakan stop terhadap narkoba, beberapa tahun lalu sebanyak 24 Sekolah Menengah Umum (SMU) negeri dan swasta se Bandung Timur menyatakan perang terhadap penyalahgunaan narkotika termasuk penggunaan obat-obatan psychotropika lainnya (narkoba) yang berbahaya. Pernyataan dituangkan dalam deklarasi yang ditandatangani sekira 500 siswa dan para guru pembina.

Deklarasi tersebut adalah sosialisasi gerakan anti narkoba di Kota Bandung. Diselenggarakan atas kerja sama KP2N, Badan Narkotika Kota (BNK) dan Pemkot Bandung.
Mengingat narkoba merupakan ancaman besar masa depan bangsa. Sehingga dalam memeranginya perlu upaya kolektif, melibatkan seluruh komponen bangsa termasuk orangtua dan para pendidik. Dari penyalah gunaan narkoba, akan muncul persoalan sosial, kekerasan, pencurian bahkan tawuran yang berkahir pada persoalan hukum. “Yang pasti, pengguna narkoba hanya diberi dua alternatif, mati mengenaskan atau hidup sengsara dipenjara,”.

(Delly M)

KOMENTAR
Share berita ini :